Kisah Penjual Es Krim yang Mencari Istri Hilang saat Galodo


Yuliana Sari

Yuliana Sari

Wartawan

Rabu, 31 Desember 2025 | Feature

Matanya sembab. Tangannya gemetar memegang sehelai foto usang. Pak Andi, 52 tahun, penjual es krim keliling di kawasan Lubuk Kilangan, Padang, telah berminggu-minggu berpindah dari satu posko ke posko lain. Satu harapan yang ia bawa: menemukan istrinya yang hilang saat galodo (banjir bandang) menerjang kampungnya.

"Istri saya namanya Bu Yetti. Umurnya 48 tahun. Dia pakai baju batik hijau waktu itu," ujarnya dengan suara parau saat ditemui di Posko Pencarian Korban, Rabu pekan lalu.

Malam nahas itu, air datang begitu cepat. Pak Andi sedang di rumah tetangga ketika banjir bandang menerjang. Ia berusaha menerobos arus deras untuk pulang, namun terlambat. Rumahnya sudah rata dengan tanah.

"Saya lihat rumah saya sudah tidak ada. Istri saya tidak ada di mana-mana. Saya teriak-teriak, tidak ada jawaban," kenangnya sambil menunduk.

Sejak saat itu, Pak Andi tidak pernah berhenti mencari. Setiap hari ia mendatangi posko-posko pencarian, rumah sakit, hingga tempat penampungan jenazah. Foto lusuh istrinya selalu ia tunjukkan kepada siapa pun yang mau membantu.

Penjual es krim keliling ini kehilangan segalanya dalam semalam. Rumah, gerobak es krim, dan yang paling memilukan – istrinya yang telah 25 tahun menemani hidupnya.

"Kami tidak punya anak. Istri saya adalah segalanya. Kalau dia pergi, untuk apa saya hidup?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Para relawan di posko sudah mengenal Pak Andi. Mereka selalu menyapanya dengan hangat, memberikan makanan dan minuman, serta kata-kata penghiburan. Namun Pak Andi hanya membutuhkan satu hal: kepastian tentang nasib istrinya.

Hingga berita ini ditulis, Bu Yetti masih dalam daftar korban hilang. Pak Andi tetap setia menunggu, berharap, dan berdoa. Kisahnya adalah satu dari sekian banyak cerita pilu yang tersembunyi di balik statistik korban bencana.

Banjir memang telah surut. Namun luka di hati para penyintas seperti Pak Andi, entah kapan akan sembuh.

Oleh:
Yuliana Sari
Wartawan

Bagikan:
Esai keagamaan tentang Sidang Isbat, Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, perbedaan metode rukyat dan hisab, serta pent

Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...

Opini - 18 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Esai reflektif tentang makna senioritas, pengalaman hidup, keteladanan, dan pentingnya hubungan saling menghormati antara gen

Wibawa yang Dibentuk oleh Waktu

Opini - 18 Mei 2026

Oleh: Sudadi

Esai reflektif Shofwan Karim tentang kisah Nabi Nuh A.S. sebagai teladan kesabaran, keteguhan iman, dan bahtera penyelamat di

Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang

Esai - 16 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Esai opini tentang sejarah Palestina, konflik politik, dan ketidakadilan global yang ditulis oleh Shofwan Karim.

Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...

Kolom - 05 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.