Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang


Esai reflektif Shofwan Karim tentang kisah Nabi Nuh A.S. sebagai teladan kesabaran, keteguhan iman, dan bahtera penyelamat di

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Sabtu, 16 Mei 2026 | Esai

Gelombang kehidupan manusia modern sering menyerupai banjir besar: krisis moral, runtuhnya solidaritas sosial, dan derasnya arus materialisme. Dalam pusaran itu, kisah Nabi Nuh alaihissalam (a.s.) diperkirakan hidup antara 3000-4000 SM, hadir bukan sekadar dongeng purba, melainkan cermin sejarah yang menuntun jiwa.

Tilik ulang Nabi Nuh a.s. hidup di awal Zaman Perunggu (Bronze Age) atau Periode Jemdet Nasr di Mesopotamia. Pada masa ini, manusia purba tidak lagi hanya hidup nomaden (berpindah-pindah) di gua, melainkan sudah menetap, membangun permukiman, dan menggunakan perkakas logam.

Meski Nuh hidup di era awal peradaban manusia, namun masyarakat sudah mengenal bercocok tanam dan pembentukan kota-kota kuno. Beliau adalah Rasul Ulul Azmi, teladan keteguhan hati, yang mengajarkan bahwa iman adalah bahtera penyelamat di tengah badai zaman.

ilustrasi kapal nuh
ilustrasi kapal nuh

Kebenaran yang Ditertawakan

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, siang dan malam, menyeru kaumnya agar kembali kepada tauhid. Namun, ejekan dan penolakan justru menjadi jawaban. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, sedang mereka orang-orang yang zalim.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 14)

Kesabaran beliau bukan pasif, melainkan daya spiritual yang terus menggerakkan dakwah meski hasilnya mendapat olok-olokan dan perundungan tak berkesudahan dari warga masyarakatnya. Akan tetapi, dalam pandangan hikmah dan kesufian, inilah komunikasi profetik: menyeru kebenaran meski ditertawakan.

Ketika Allah menegaskan bahwa mereka yang menertawakan, memperolok-olok, dan mem-bully akan menerima “balasan”, Nabi Nuh diperintahkan membangun bahtera “kapal induk” raksasa. Pembuatan kapal di daratan kering tak henti-hentinya menerima ejekan dan tertawaan, menjadi menu para komedian purba. Mereka tidak paham. Hakikatnya bahtera itu adalah simbol iman: konstruksi spiritual yang tampak “aneh” bagi dunia, tetapi justru menjadi penyelamat.

Allah berfirman:

“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud [11]: 37)

Azab dan Keselamatan

Tanda azab dimulai ketika air memancar dari tanur rumah Nabi Nuh, lalu hujan turun tiada henti. Banjir merebak ke mana-mana. Tak ada lurah. Tak ada gunung. Semua rata dengan air yang tak ada kaki tempat berpijak. Kaum yang ingkar binasa, sementara orang beriman bersama sepasang hewan dari setiap jenis diselamatkan dalam bahtera.

Rasulullah bersabda:

Halaman:

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Bagikan:
Esai opini tentang sejarah Palestina, konflik politik, dan ketidakadilan global yang ditulis oleh Shofwan Karim.

Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...

Kolom - 05 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Sebuah refleksi mendalam tentang konflik global modern, kegagalan diplomasi, pelanggaran etika perang, serta urgensi perdamai

Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal

Opini - 17 April 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Tulisan reflektif tentang peran dan pengorbanan prajurit perdamaian Indonesia dalam misi PBB, dari sejarah Kontingen Garuda h

Catatan Seorang Prajurit Perdamaian

Esai - 04 April 2026

Oleh: Sudadi

Refleksi tentang kebahagiaan, iman, dan tanggung jawab sosial dalam perspektif Islam berdasarkan temuan Global Flourishing St

Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Opini - 31 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.