Simfoni Luka: Antara Ayat Suci dan Amuk Manusia


"Sebuah esai reflektif tentang ironi perang dan agama, menyoroti bagaimana ayat suci seharusnya menjadi rem bagi amarah,

Sudadi

Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Minggu, 29 Maret 2026 | Opini

Tuhan tidak pernah keliru menurunkan petunjuk; manusialah yang sering kali membacanya dengan kacamata kebencian dan keangkuhan. Ayat yang seharusnya berfungsi sebagai "rem" bagi hawa nafsu, justru dipelintir menjadi "bahan bakar" bagi eskalasi konflik.

Khatimah: Menjaga Kehidupan

Jawaban atas siklus pertumpahan darah ini tidak akan turun secara ajaib dari langit, melainkan harus digali secara sadar dari dalam diri sendiri. Selama kasih sayang masih bertekuk lutut di hadapan ego, maka bumi akan terus meminum darah anak-anaknya.

Dunia yang lelah ini tidak lagi membutuhkan pahlawan penakluk; ia merindukan para penjaga damai yang berani menahan tangannya, justru ketika seluruh dunia mendesaknya untuk memukul. Pada akhirnya, kedekatan manusia dengan Sang Pencipta tidak diukur dari seberapa banyak nyawa yang berhasil dipadamkan, melainkan seberapa gigih ia menjaga kehidupan agar tetap menyala.

Sebab, peperangan yang sesungguhnya baru akan benar-benar usai ketika hati manusia telah menemukan kedamaiannya sendiri.


* Sudadi adalah Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Halaman:
1 2

Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Bagikan: