Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita Punya "Otak" Sendiri


Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.

Mahasiswa dan Dosen pembimbing Program Sarjana Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas

Kamis, 30 Juli 2026 | Opini

Kita jarang memikirkan ruang tempat obat diracik. Bagi kebanyakan orang, yang penting obat sampai ke tangan dengan dosis dan kemasan yang benar. Padahal, jauh sebelum obat itu dikemas, ada satu variabel yang sering luput dari perhatian publik, yaitu kondisi ruangan tempat obat dibuat. Suhu yang terlalu panas dapat mempercepat kerusakan bahan aktif. Cahaya yang terlalu redup dapat membuat seorang apoteker salah membaca label, salah menakar, atau salah mencampur bahan. Dua hal yang terkesan sepele ini, yakni suhu dan cahaya, ternyata memiliki andil besar dalam menentukan apakah obat yang kita minum benar-benar aman.

Selama mengerjakan riset skripsi saya di Program Studi Fisika Universitas Andalas tentang kendali otomatis ruang racik obat, saya menemukan sesuatu yang mengusik pikiran. Banyak fasilitas racik obat berskala kecil hingga menengah di Indonesia, seperti klinik, apotek, bahkan sebagian instalasi farmasi rumah sakit daerah, masih mengandalkan kontrol lingkungan yang sangat sederhana. Sekadar menyalakan dan mematikan AC secara manual serta membiarkan lampu menyala penuh sepanjang hari tanpa memedulikan apakah ada petugas di dalam ruangan atau tidak. Cara kerja seperti ini bukan hanya boros energi, tetapi juga lambat merespons perubahan kondisi ruangan dan rentan terhadap kelalaian manusia.

Sebenarnya standar pengendalian lingkungan sudah tersedia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menuntut kondisi lingkungan produksi yang terkendali secara ketat. Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 70 Tahun 2016 menetapkan bahwa intensitas pencahayaan area produksi minimal 500 lux. Namun, aturan di atas kertas dan kondisi di lapangan sering kali masih berjarak jauh. Berapa banyak ruang racik yang benar-benar mengukur intensitas cahayanya secara berkala? Berapa banyak yang mengetahui secara pasti suhu ruangannya pada jam-jam sibuk operasional?

Dari pertanyaan itulah saya mulai berpikir. Jika masalahnya adalah sistem yang lambat, tidak adaptif, dan boros energi, maka jawabannya bukan menambah lebih banyak alat yang mahal, melainkan membuat alat yang sudah ada menjadi lebih "pintar". Dalam penelitian saya, saya membangun purwarupa sistem kendali otomatis berbasis mikrokontroler Arduino Uno, sebuah perangkat elektronika yang harganya relatif terjangkau. Sistem tersebut dipadukan dengan algoritma kendali Proportional-Integral-Derivative (PID), sensor cahaya BH1750, sensor suhu DHT22, serta sensor gerak Passive Infrared (PIR) untuk mendeteksi keberadaan operator.

Hasilnya, dengan parameter kendali yang tepat, sistem mampu menjaga intensitas cahaya pada kisaran 500 lux dengan tingkat kesalahan sekitar 0,38 lux, serta menstabilkan suhu pada 25°C dengan tingkat kesalahan kurang dari 0,05°C. Lampu menyala secara otomatis ketika operator terdeteksi berada di dalam ruangan dan akan padam dengan sendirinya setelah operator keluar.

Pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma pid untuk meningkatkan keamanan, efisiensi, serta mutu pelayanan farmasi di indonesia.
Pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma PID untuk meningkatkan keamanan, efisiensi, serta mutu pelayanan farmasi di Indonesia.

Angka-angka tersebut memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah apa yang berhasil dibuktikan. Teknologi otomasi presisi untuk ruang racik obat tidak harus mahal. Sistem seperti ini dapat dirakit menggunakan komponen elektronika yang mudah diperoleh secara daring, dikembangkan oleh mahasiswa di laboratorium kampus, dan tetap mampu memberikan tingkat akurasi yang sebanding dengan sistem komersial yang harganya berkali-kali lipat lebih tinggi. Hal ini semestinya menjadi kabar baik, terutama bagi fasilitas kesehatan kecil dan menengah yang selama ini menganggap otomasi sebagai kemewahan yang hanya dapat dimiliki oleh industri farmasi berskala besar.

Tentu saja, purwarupa berskala 20 × 30 × 20 sentimeter yang saya uji di laboratorium masih jauh dari kondisi ruang produksi yang sesungguhnya. Masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab, seperti bagaimana sistem ini bekerja pada ruangan berukuran penuh dengan mobilitas operator yang tinggi, bagaimana pengaruh kelembapan udara terhadap kinerjanya, atau bagaimana ketahanannya dalam penggunaan jangka panjang. Namun, justru di situlah letak pentingnya riset semacam ini untuk terus didorong agar berkembang, bukan berhenti sebagai laporan yang tersimpan rapi di rak perpustakaan kampus.

Saya percaya negeri ini memiliki banyak mahasiswa teknik maupun fisika instrumentasi yang setiap tahun mengerjakan proyek serupa. Sayangnya, sebagian besar penelitian tersebut berhenti begitu sidang skripsi selesai. Kita sering kali terlalu sibuk mengejar kelulusan sehingga lupa bahwa ide-ide kecil seperti ini memiliki potensi besar untuk diuji dan dimanfaatkan di dunia nyata, baik oleh apotek desa, klinik kecamatan, maupun rumah sakit daerah yang selama ini belum mampu membeli sistem kontrol lingkungan buatan luar negeri.

Yang dibutuhkan saat ini bukan lagi bukti bahwa teknologi tersebut dapat dibuat, karena hal itu telah berulang kali dibuktikan oleh mahasiswa-mahasiswa seperti saya. Yang dibutuhkan adalah keberanian para pemangku kepentingan, baik perguruan tinggi, industri farmasi, maupun pemerintah daerah, untuk mengujinya secara langsung di lapangan dan mengembangkannya menjadi solusi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Obat yang aman bukan hanya soal formula kimianya yang tepat, tetapi juga soal ruangan tempat ia dilahirkan. Dan ruangan itu, sekecil apa pun ukurannya, layak memiliki "otak" sendiri yang bekerja menjaganya, detik demi detik, tanpa harus menunggu manusia mengingatnya.

Halaman:

Oleh:
Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.
Mahasiswa dan Dosen pembimbing Program Sarjana Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas

Bagikan:
Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Artikel Shofwan Karim tentang transformasi kebudayaan sebagai soft power dalam membangun peradaban dunia yang damai, inklusif

Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...

Opini - 22 Juni 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.