Ketika mesin sepenuhnya mengambil alih komando, perang akan kehilangan dimensi manusianya secara utuh. Di titik inilah dunia menghadapi sebuah paradoks yang mengerikan. Perang menjadi semakin canggih, terukur, dan terkendali, tetapi di saat yang sama, ia semakin berjarak dari nilai kemanusiaan. Ia kehilangan makna dan emosi yang dahulu membuatnya dapat dipahami—meski tak pernah bisa sepenuhnya dibenarkan.
Masa depan barangkali bukan tentang utopia sebuah dunia tanpa perang. Melainkan sebuah distopia di mana perang tetap berkecamuk secara konstan, namun tak lagi dikenali sebagai bagian dari pengalaman kehidupan manusia.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...
Opini - 18 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.