Ketika mesin sepenuhnya mengambil alih komando, perang akan kehilangan dimensi manusianya secara utuh. Di titik inilah dunia menghadapi sebuah paradoks yang mengerikan. Perang menjadi semakin canggih, terukur, dan terkendali, tetapi di saat yang sama, ia semakin berjarak dari nilai kemanusiaan. Ia kehilangan makna dan emosi yang dahulu membuatnya dapat dipahami—meski tak pernah bisa sepenuhnya dibenarkan.
Masa depan barangkali bukan tentang utopia sebuah dunia tanpa perang. Melainkan sebuah distopia di mana perang tetap berkecamuk secara konstan, namun tak lagi dikenali sebagai bagian dari pengalaman kehidupan manusia.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...
Opini - 30 Juli 2026
Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.
Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...
Opini - 11 Juli 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
UU Tipikor Masih Lex Specialis? Membaca Ancaman Nyata KUHP...
Opini - 23 Juni 2026
Oleh: Dzikri Aziz Rahman
Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...
Opini - 22 Juni 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.