Generasi Kolonial Bisa Jadi Raja Konten


Refleksi tentang peran generasi senior dalam era digital dan pentingnya pengalaman sebagai sumber konten berkualitas.

Sudadi

Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979

Selasa, 05 Mei 2026 | Esai

Namun, kemampuan berikut tidak memiliki tutorial instan:

  • Menganalisis masalah kompleks
  • Ketangguhan mental dalam krisis
  • Integritas dalam menjaga amanah

Hal-hal tersebut hanya lahir dari pengalaman panjang.

Legacy yang Tak Boleh Terputus

Banyak sejarah besar dan strategi brilian terkubur begitu saja hanya karena pemiliknya merasa tidak nyaman masuk ke dunia media sosial yang dianggap remeh.

Ini merupakan kerugian intelektual bagi bangsa.

Jika kaum senior menjauh dari ruang digital, maka ekosistem informasi akan terus dipenuhi konten dangkal tanpa substansi.

Kehadiran tulisan dari para senior tentang berbagai palagan perjuangan—baik di medan tempur, meja perundingan, maupun birokrasi—merupakan sebuah legacy (warisan) yang sangat bernilai.

Generasi Z membutuhkan kompas, dan kompas itu terdapat pada catatan pengalaman mereka yang telah makan asam garam kehidupan.

Menuju "Senior Digital" yang Berwibawa

Analisis ini mengajak kaum senior untuk tidak lagi menjadikan istilah "gaptek" sebagai tameng untuk berhenti berkarya.

Mendekatlah pada teknologi.

Jadikan platform digital sebagai mesin ketik modern untuk mewariskan nilai-nilai luhur.

Kehadiran tulisan seorang senior yang berbobot di media sosial tidak hanya akan mendapat penghormatan, tetapi juga menjadi penyeimbang di tengah arus disinformasi.

Halaman:

Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979

Bagikan: