Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui Maqashid al-Syariah


Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Wantim MUI 2005-2010; 2015-2025 | Rektor UM 2006-2013 | Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Kamis, 01 Oktober 2026 | Opini

Pembangunan kesehatan di Indonesia selama ini telah melahirkan belasan hingga puluhan indikator statistik—mulai dari Survei Kesehatan Indonesia, angka morbiditas, status gizi, hingga perlindungan finansial. Namun, di tengah derasnya arus data dan angka-angka biostatistik yang presisi, muncul sebuah paradoks filosofis: mengapa himpunan data yang begitu masif sering kali gagal memberikan gambaran utuh tentang arti kesejahteraan manusia yang hakiki?

Orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Yuli Amran, MKM (UIN Jakarta, 30/09/2026) mengkaji hal ini sepanjang 20 halaman. Ia mengatakan angka rata-rata nasional kerap kali menjadi selimut statistik yang menyamarkan ketimpangan tajam di tingkat akar rumput. Wilayah dengan cakupan pelayanan 80 persen bisa jadi menyembunyikan jurang pemisah antara kelompok mapan yang menikmati akses paripurna dan kelompok rentan yang terabaikan.

Guru Besar Biostatistik Kesehatan Masyarakat itu menyatakan, kesehatan masyarakat modern memerlukan sebuah navigasi baru yang melampaui sekadar ketepatan matematis, yakni sebuah orientasi nilai yang mampu menyatukan dimensi kemanusiaan secara komprehensif.

Guru besar prof. dr. yuli amran, mkm
Guru Besar Prof. Dr. Yuli Amran, MKM

Secara filosofis dan akademik, reduksionisme angka dalam kesehatan publik sering kali memerangkap para pembuat kebijakan pada jebakan materialistis—bahwa manusia dipandang sebatas entitas biologis yang angka kematian dan kesakitannya harus ditekan.

Padahal, merujuk pada pemikiran kontemporer tentang pembangunan manusia, kesehatan adalah karunia multidimensional yang berkelindan dengan harkat, martabat, keadilan sosial, dan kedamaian batin.

Menjawab tantangan fragmentasi informasi ini, sebuah terobosan konseptual diusulkan oleh Guru Besar kelahiran Padang, 6 Mei 1980 itu, melalui apa yang ia sebut sebagai Maqashid Health Index (MHI).

MHI bukan sekadar instrumen ukur baru untuk menggantikan indikator yang sudah ada, melainkan sebuah kerangka epistemologis yang menjembatani data biostatistik empiris dengan nilai-nilai luhur kemaslahatan universal.

Dalam perspektif Islamis, MHI mendudukkan tujuan esensial syariat (Maqashid al-Syariah) sebagai kompas moral pembangunan kesehatan. Lima pilar perlindungan universal (al-kuliyyat al-khams) diterjemahkan secara metodologis ke dalam domain kesehatan masyarakat yang terukur.

Lima Pilar Maqashid al-Syariah dalam MHI

Pertama, hifz al-din (perlindungan agama dan keyakinan) dimaknai secara humanis sebagai penghormatan terhadap nilai spiritual, keyakinan personal, dan etika pelayanan yang peka terhadap martabat pasien.

Kedua, hifz al-nafs (perlindungan jiwa) mencakup pencegahan kematian dini, pemberantasan penyakit, pemenuhan gizi, dan keselamatan hidup yang bermartabat.

Ketiga, hifz al-aql (perlindungan akal) memperluas cakrawala kesehatan mental, perkembangan kognitif, literasi kesehatan, serta proteksi atas kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan rasional.

Halaman:

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Wantim MUI 2005-2010; 2015-2025 | Rektor UM 2006-2013 | Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Bagikan:
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.

Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.