Bedanya dengan Tawana, Nikalei sudah lama menjadi pengeritik gereja-gereja superbesar (megachurches) yang disebutnya mengalami “kemunafikan sistemik”. Eksperimen dilakukan dengan menelpon hampir 50-an rumah ibadah. Nyaris seluruh gereja menolak membantu Nikalie dengan berbagai alasan birokratis.
“Bahkan jika seseorang benar-benar menipu gereja untuk mendapatkan susu bayi, risikonya masih jauh lebih kecil dibandingkan membiarkan seorang bayi benar-benar kelaparan.” —Nikalei Monroe
Eksperimen sosial Nikalie dan Tawana dalam sosiologi dikenal sebagai Audit Testing atau Field Experiment. Teknik Mystery Shopping digunakan untuk mengungkap kegagalan sistemik dalam merespon kebutuhan dasar manusia.
Tiga referensi penelitian akademis di atas membuktikan bahwa “perkataan institusi” (misalnya: “Kami mencintai sesama”) seringkali berbeda dengan “sikap institusi” dalam menghadapi situasi nyata.
Secara sosiologis, ini mencerminkan benturan antara “Etika Keyakinan” (spontanitas kasih) versus “Etika Organisasi” (prosedur dan audit ketat).
Menarik menunggu apakah eksperimen serupa akan dilakukan di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Hindu di India, atau Buddha di Thailand. Setidaknya untuk membuktikan apakah fenomena ini hanya terjadi di Barat atau sudah menjadi tren global di era digital.
Jakarta, 26 Januari 2026
Oleh:
Akmal Nasery Basral
Sosiolog, penulis, jurnalis. Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Sosial
Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...
Opini - 18 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang
Esai - 16 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...
Kolom - 05 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.