Budaya berkampung, bernagari, dan berjorong turut memperkuat tradisi ini. Orang rantau mengirim zakat dan fitrahnya kepada mustahik di kampung halaman, sesuai penilaian mereka.
Varian penerima zakat ini telah berlangsung lama. Potensi zakat, wakaf, infak, dan hibah yang disebut Rp 327 triliun (nasional) itu sebenarnya telah dijalankan oleh umat Islam Indonesia.
Hanya saja, tidak semuanya melalui Baznas. Lembaga amil di Indonesia jumlahnya puluhan ribu. Bayangkan, ada 74.093 desa (2019). Di tiap desa, nagari, dan jorong, bisa jadi lebih dari satu lembaga amil.
Semua ini adalah panorama ibadah kolosal. Tak terbayangkan, bahwa Idul Fitri sekali setahun mampu membangun urat tunggang peradaban. Peradaban sebagai puncak budaya berbagi—dalam suka dan duka.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 133–134)
Maka, saat berbuka di akhir Ramadhan ini, mari kita campakkan semua pertikaian dan rajut sempurna kebersamaan. Allahu Akbar.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat
Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Opini - 17 April 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.