Dunia sedang menyaksikan perang—bukan hanya di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi yang penuh kabut. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menghadirkan satu kenyataan yang membingungkan: setiap pihak berbicara, tetapi tidak semuanya bisa dipercaya.
Klaim kemenangan datang silih berganti. Sebuah serangan disebut berhasil, lalu balasan dikatakan jauh lebih kuat. Namun tak lama kemudian, muncul bantahan, versi alternatif, bahkan informasi yang saling bertolak belakang. Publik dunia pun berada dalam posisi yang tidak mudah; dipaksa mendengar banyak hal, tetapi sangat sulit memastikan mana yang benar-benar mewakili realitas.

Dalam situasi seperti ini, kecemasan tidak murni datang dari ancaman senjata fisik, melainkan dari ketidakpastian informasi yang menyertainya. Semua pihak tampak mahir memainkan perannya. Narasi dibangun, disebarkan, dan diperkuat secara terstruktur. Tujuannya bukan lagi sekadar menyampaikan fakta kepada dunia, melainkan membentuk cara dunia melihat fakta tersebut.
Dalam disiplin Ilmu Komunikasi, kondisi ini dapat dibaca melalui konsep Framing dan Agenda Setting—yakni tentang bagaimana informasi dipilih, disusun, lalu diarahkan dengan sengaja untuk membentuk persepsi publik.
Di lanskap media sosial, proses ini berlangsung tanpa jeda. Potongan video yang kehilangan konteks, gambar dari konflik masa lalu, dan narasi emosional menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Semua itu menjelma menjadi bagian dari Perang Psikologis (Psychological Warfare), sebuah perang urat saraf yang tidak hanya menyasar mental lawan di medan tempur, tetapi juga menjajah kesadaran publik secara global.
Namun, di balik tebalnya kabut narasi tersebut, ada kenyataan yang tidak bisa disangkal: dampak langsung terhadap kemanusiaan. Ketika aliran listrik padam, pasokan air terganggu, dan kehidupan warga sipil berubah menjadi penuh ketidakpastian, seluruh mesin propaganda seketika kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah insting dasar bagaimana manusia harus bertahan hidup.
Lalu, pertanyaan pun mengemuka: pada akhirnya, siapa yang menang? Masing-masing pihak boleh saja mendeklarasikan keunggulan absolut. Namun, dunia melihat hal yang jauh berbeda. Dunia melihat ketidakpastian yang makin meluas, serta dampak ekonomi yang merembet tak terkendali hingga ke negara-negara yang bahkan tidak ikut mengangkat senjata. Dalam arti tertentu, kita semua ikut menanggung akibat dari pelatuk yang ditarik oleh pihak lain.
Di tengah deras dan kotornya arus informasi hari ini, ada satu hal sederhana yang sering kita lupakan: tidak semua hal yang cepat sampai ke layar gawai kita adalah kebenaran, dan tidak semua narasi yang tampak meyakinkan layak untuk segera dibagikan.
Barangkali, di zaman yang serba gegap gempita ini, kehati-hatian telah berevolusi menjadi bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang paling nyata. Menahan diri sejenak sebelum mempercayai, dan memastikan validitas sebelum menyebarkan, adalah cara kecil namun krusial agar kita tidak ikut memperpanjang kabut yang sudah terlampau tebal.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pesan Hamka, Ramadhan dan Idul Fitri Dibawa Sepanjang Tahun
Kolom - 26 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Boleh Berbeda, Tetap dalam Kebersamaan
Kolom - 21 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.