“Perumpamaan orang yang berpegang pada perintah Allah dan orang yang meninggalkannya seperti suatu kaum yang naik kapal. Sebagian berada di atas, sebagian di bawah. Yang di bawah bila ingin mengambil air harus naik ke atas. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kami melubangi kapal ini, tentu kami tidak menyusahkan yang di atas.’ Jika mereka membiarkan, semua selamat. Jika mereka melubangi, semua binasa.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi gema kisah Nuh: keselamatan kolektif bergantung pada kesetiaan bersama menjaga bahtera iman.
Bahtera Nuh bukan sekadar kapal kayu, melainkan simbol penyelamatan nilai kemanusiaan. Kesabaran beliau adalah energi spiritual yang menuntun umat melewati badai. Dalam perspektif hikmah-filosofis, Nuh mengajarkan bahwa iman adalah pilihan eksistensial—meski minoritas, meski ditertawakan, ia tetap menjadi jalan keselamatan.
Kesabaran bukan berarti diam, melainkan keberanian untuk bertahan, menyeru, dan membangun bahtera nilai di tengah arus zaman. Bahtera itu kini bisa berupa pendidikan, dakwah, solidaritas sosial, atau karya intelektual yang menjaga manusia dari tenggelam dalam banjir materialisme dan hedonisme.
Kisah Nuh adalah pelajaran abadi. Iman adalah bahtera kehidupan. Ia menyelamatkan manusia dari gelombang kebinasaan. Kesabaran adalah kekuatan esensial, eksistensial, aktif, yang menuntun misi dakwah dan perjuangan.
Oleh karena itu, komunitas beriman adalah amanah yang harus dijaga bersama agar tidak bocor dan “digirik-kumbang” oleh kelalaian.
Semangat membangun bahtera nilai kemanusiaan harus tetap tumbuh, hidup, dan berkembang di setiap zaman, agar manusia tidak hanyut oleh arus kesesatan.
Analogi klasik Imam Malik bin Anas (wafat 795 M) mengumpamakan As-Sunnah (ajaran dan tuntunan Rasulullah) laksana bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, ia akan selamat dari badai kesesatan. Barangsiapa yang menyelisihinya atau enggan menaikinya, ia akan tenggelam dalam kebinasaan.
Dalam literatur tasawuf, para sufi seperti Ibnu Arabi (1165-1240 M) memandang kisah banjir bah secara esoteris sebagai gelombang hawa nafsu dan duniawi. Bahtera Nabi Nuh melambangkan hati (qalbu) seorang mukmin yang bersih dan diikat oleh keimanan.
Cinta dunia dan maksiat diibaratkan sebagai air yang menenggelamkan, sementara kesadaran spiritual dan dzikir ibarat dinding bahtera yang kokoh, menjaga jiwa agar tetap mengapung dan tidak tenggelam oleh godaan dunia yang fana. (*)
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.
Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...
Kolom - 05 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Opini - 17 April 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.