Apabila keduanya berjalan sendiri-sendiri, potensi besar bisa terbuang. Yang muda mungkin bergerak cepat tetapi kehilangan arah. Yang senior mungkin memiliki arah tetapi kurang energi untuk melangkah lebih jauh. Namun, ketika keduanya saling menghormati dan bekerja bersama, hasilnya akan jauh lebih kuat.
Pada akhirnya, senioritas bukanlah soal siapa yang lebih lama hidup, melainkan siapa yang mampu menjadikan waktu sebagai guru. Wibawa sejati tidak dibentuk oleh jabatan, usia, atau tuntutan untuk dihormati. Wibawa sejati dibentuk oleh pengalaman, kerendahan hati, dan kemampuan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979
Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...
Opini - 11 Juli 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
UU Tipikor Masih Lex Specialis? Membaca Ancaman Nyata KUHP...
Opini - 23 Juni 2026
Oleh: Dzikri Aziz Rahman
Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...
Opini - 22 Juni 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.