Berbekal hisab hakiki yang didukung teknologi komputasi astronomi tingkat tinggi, KHGT mampu memproyeksikan penanggalan Islam hingga puluhan tahun ke depan tanpa harus menunggu ketidakpastian cuaca di akhir bulan.
Mari dibedah data empiris pada musim haji 1447 H / 2026 M ini. Terdapat arus besar pergerakan manusia sebanyak 253.594 jemaah haji dari Asia Tenggara yang bergerak menuju Tanah Suci Makkah. Mereka bergerak bersama dengan perkiraan total jemaah haji sedunia pada musim haji 2026/1447 H yang berada di kisaran 1,5 hingga 1,8 juta jemaah.
Berdasarkan kalender Ummul Qura yang berbasis hisab astronomi di Arab Saudi, puncak ibadah haji atau wukuf di Arafah (9 Zulhijah) diperkirakan jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026, sehingga Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Perhitungan dari sistem KHGT pun menghasilkan tanggal yang presisi dan selaras dengan perkiraan global tersebut:
Meskipun secara de jure Mahkamah Agung Arab Saudi tetap akan mengumumkan keputusan resmi setelah melakukan rukyat fisik di akhir bulan Zulkaidah, sinkronisasi data astronomis ini menunjukkan bahwa iptek modern memiliki akurasi yang luar biasa dalam memetakan orbit bulan.
Perbedaan antara rukyat lokal dan hisab global bukanlah jurang pemisah, melainkan simfoni pemikiran yang memperkaya khazanah Islam. Jika Sidang Isbat di Nusantara adalah wujud kehati-hatian spiritual dalam menghargai bumi tempat berpijak, maka KHGT adalah bentangan sayap peradaban yang memandang bumi sebagai satu kesatuan utuh di bawah naungan langit yang sama.
Waktu terus bergulir, memahat takdir di atas sajadah sejarah. Ketika jemaah haji melantunkan kalimat talbiyah di Padang Arafah yang gersang, getarannya harus mampu menembus batas geografis dan perbedaan metode penanggalan.
Kebersamaan esensial tidak terletak pada keseragaman mata memandang bulan sabit di ufuk barat, melainkan pada kesatuan hati yang rida bersujud menghadap Ka'bah yang satu. Pada akhirnya, baik melalui ketukan palu Sidang Isbat pemerintah maupun kepastian matematis KHGT, esensi Iduladha adalah pengorbanan, keikhlasan, dan persatuan umat yang takkan luntur oleh perbedaan derajat tinggi hilal.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.
Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang
Esai - 16 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...
Kolom - 05 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Opini - 17 April 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.