Diaspora Indonesia: Menyulam Identitas, Merajut Nusantara


Kisah diaspora Indonesia di Edmonton, Kanada, dalam menjaga identitas kebangsaan, nilai-nilai keislaman, serta membangun komu

Shofwan Karim

Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Alumni CWY-PPIK 1980--1985, Senior Advisor for President CEO-CWY 2013--2015 Montreal, Observer SU PBB 1984, 1988, 1998.

Selasa, 02 Juni 2026 | Feature

Di sanalah kami bersentuhan dengan riwayat sebuah tempat suci bernama Masjid Al Rashid. Masjid kecil itu tak mampu lagi menampung jemaah yang telah mencapai ribuan orang. Mereka berasal dari berbagai etnis dan bangsa di dunia. Sekilas sejarah perlu ditampilkan.

Situs Al Rashid mencatat bahwa fajar Islam di Kanada sejatinya telah menyingsing sejak tahun 1871, ketika gelombang umat Muslim pertama mendarat menggunakan perahu di pantai timur. Pada tahun 1931, sensus resmi hanya merekam 645 jiwa penduduk Muslim di seluruh negeri.

Di Edmonton sendiri, sekelompok perempuan Muslim yang dipelopori oleh figur gigih bernama Hilwi Hamdon bersama rekan-rekannya menginisiasi sebuah gerakan emansipatif pada awal tahun 1930-an.

Mereka menemui Wali Kota John Wesley Fry untuk meminta sebidang tanah, menuntut hak spiritual yang sama sebagaimana pemeluk agama lain yang telah memiliki tempat peribadatan.

Meskipun kota sedang dicengkeram depresi ekonomi hebat menjelang Perang Dunia II, para muslimah ini melakukan penggalangan dana dari pintu ke pintu di sepanjang Jasper Avenue tanpa memandang apakah pemilik toko tersebut seorang Muslim, Kristen, atau Yahudi. Berkat kegigihan tersebut, tanah di samping Rumah Sakit Royal Alexandra berhasil dibeli seharga 5.000 dolar AS.

Dengan menunjuk Mike Drewoth, seorang kontraktor keturunan Ukraina-Kanada, bangunan asli Masjid Al Rashid akhirnya tegak dan diresmikan pada 12 Desember 1938. Peresmian tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas iman serta sarjana Muslim terkemuka, Abdullah Yusuf Ali, sang penerjemah legendaris Al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris.

Kehadiran bangunan bersejarah ini tidak hanya menjadi penjamin bagi para pendatang untuk merawat keyakinan mereka, tetapi juga menjadi magnet yang menarik gelombang keluarga Muslim dari berbagai belahan dunia untuk bermigrasi ke Edmonton.

Waktu berjalan. Komunitas Muslim di Edmonton terus berkembang. Pada awal 1980-an, jumlah populasi Muslim membengkak hingga melampaui 16.000 jiwa, membuat bangunan lama Al Rashid di kawasan Kingsway tidak lagi memadai.

Komunitas kemudian mendirikan bangunan baru yang megah dengan arsitektur universal di kawasan utara Edmonton pada tahun 1982 yang mampu menampung hingga 20.000 jemaah.

Sementara itu, bangunan asli masjid yang sempat telantar dan terancam oleh proyek perluasan rumah sakit berhasil diselamatkan berkat advokasi gigih Dewan Wanita Muslim Kanada.

Pada 28 Mei 1992, struktur historis tersebut dipindahkan secara permanen ke Fort Edmonton Park (Taman Sejarah Kota Edmonton) untuk dilestarikan sebagai monumen perdamaian dan warisan budaya multikultural Kanada. Keberadaan museum ini menjadi pengakuan yang sangat mengharukan dari masyarakat luas atas eksistensi historis Islam yang inklusif.

Halaman:

Oleh:
Shofwan Karim
Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Alumni CWY-PPIK 1980--1985, Senior Advisor for President CEO-CWY 2013--2015 Montreal, Observer SU PBB 1984, 1988, 1998.

Bagikan:
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.

Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.