Kini, lompatan kuantitatif dan kualitatif telah terjadi. Berdasarkan sensus tahun 2021, komunitas Muslim di Edmonton telah mencapai 84.635 jiwa yang memayungi 62 latar belakang budaya berbeda. Di tengah mosaik global ini, diaspora Indonesia memegang peranan yang khas.
Di kota ini, kepengurusan spiritualitas terus bergulir melalui simpul-simpul komunal seperti Indonesian Muslim Community of Edmonton (IMCE), yang secara konsisten mengadakan rapat-rapat hibrida demi kemaslahatan umat. Paling aktual, saya diminta Uda Ismal Sutan Kayo, Penasihat IMCE, untuk mengikuti rapat virtual pada 17 Mei lalu.
Hadir pengurus inti: Admiral, Ismal, Dwi, Rendra, dan Husna. Saya diminta sebagai pengantar rapat dengan menyampaikan sekilas aliran pemikiran Islam kontemporer Indonesia. Setelah itu mereka melanjutkan rapat teknis kepengurusan.
Kembali ke komunitas Muslim. Geliat dakwah berdenyut harmonis melalui kehadiran pusat-pusat spiritualitas baru seperti Al-Ikhlas Centre, Annoor, dan Markaz-Ul-Islam yang melengkapi warisan historis Al Rashid.
Semua ikhtiar ini membentuk atmosfer penguat bagi tunas-tunas muda diaspora agar mereka tidak canggung menjadi Muslim yang kaffah sekaligus warga dunia yang kontributif.
Rumah tangga para imigran menjelma menjadi “invisible madrasah” (madrasah tak terlihat), sebuah ruang domestik yang sakral tempat nilai-nilai luhur keislaman dan keindonesiaan ditransfer melintasi generasi.
Sejak beberapa tahun lalu, IMCE sedang giat membangun sebuah masjid yang mereka namakan Al-Ikhlas Centre. Sekaligus, di lokasi tersebut akan berdiri Indonesian Islamic Community Center yang representatif.
Duta Besar RI untuk Kanada di Ottawa berharap tempat ini menjadi pusat komunitas Muslim Indonesia di kawasan barat Kanada. Dubes Muhsin Syihab menyerahkan bantuan pada 10 Mei lalu. Diharapkan masjid dan Islamic Center tersebut selesai pada tahun 2026.
“Masjid ini diberi nama Masjid Al-Ikhlas Centre, sebuah masjid yang diinisiasi oleh Komunitas Muslim Indonesia di Edmonton. Nama ini disepakati oleh para jemaah yang telah berjuang selama lebih dari dua tahun dalam proses pembangunan dan penggalangan dana,” kata Admiral Jahimir, Presiden Indonesian Muslim Community of Edmonton (IMCE) (SindoNews, 26 Januari 2026).
Seperti diaspora Indonesia lainnya, Admiral Jahimir dari Kamang, Agam, menenun jalinan takdir yang mempertemukan para perantau Nusantara dengan dinginnya tanah Kanada. Jarak ribuan mil hanyalah angka-angka matematis yang fana di hadapan keabadian silaturahmi.
Tali gaib itulah yang meruntuhkan sekat ruang dan waktu, menghubungkan getaran kalbu dari surau dan musala Ranah Minang, meunasah Tanah Rencong, pesantren dan langgar Jawa hingga ke hamparan salju Alberta.
Oleh:
Shofwan Karim
Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Alumni CWY-PPIK 1980--1985, Senior Advisor for President CEO-CWY 2013--2015 Montreal, Observer SU PBB 1984, 1988, 1998.
Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...
Opini - 18 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang
Esai - 16 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.