Dalam tradisi pemikiran politik klasik, Plato pernah menggambarkan negara ideal dipimpin oleh mereka yang memiliki kebijaksanaan. Tentu kita tidak sedang menghidupkan kembali konsep philosopher king. Namun, gagasan bahwa pemimpin harus dibentuk melalui pendidikan yang serius tetap relevan. Demokrasi yang sehat memerlukan pemimpin yang tidak hanya memperoleh legitimasi melalui pemilihan umum, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, karakter etik, dan kemampuan mengelola kompleksitas persoalan bangsa.
Apabila URI mampu menjaga standar akademik, menjunjung meritokrasi, membuka ruang berpikir kritis, dan menanamkan etika pelayanan publik, kehadirannya dapat menjadi salah satu ikhtiar penting dalam memperkuat kualitas kepemimpinan nasional. Sebaliknya, apabila nilai-nilai tersebut diabaikan, institusi sebesar apa pun hanya akan menghasilkan administrator, bukan negarawan.
Republik ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan gedung, regulasi, ataupun lembaga. Yang paling dibutuhkan adalah manusia-manusia yang memiliki kecerdasan untuk membaca zaman, keberanian untuk mengambil keputusan, dan kejujuran untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri sendiri. Di sanalah masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dipertaruhkan.
Maka, ketika universitas mulai dipandang sebagai tempat persemaian negarawan, kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh melampaui pendidikan. Kita sedang berbicara tentang upaya merawat republik melalui manusia. Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah bangsa selalu ditulis oleh kualitas orang-orang yang dipersiapkannya untuk memimpin.
Oleh:
Shofwan Karim
Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005 dan Rektor UM 2005-2013, Dosen Pascasarjana UM Sumbar
Restorasi Peradaban: Mendiagnosis Krisis Modernitas melalui...
Opini - 25 Oktober 2026
Oleh: Shofwan Karim