Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005 dan Rektor UM 2005-2013, Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Selasa, 25 Agustus 2026 | Opini

Kita memperingati kelahiran seorang manusia yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terutama terletak pada kekuasaan, tetapi pada amanah; bukan pada kemegahan, tetapi pada akhlak; bukan pada banyaknya pengikut, tetapi pada kemampuan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.

Lebih dari lima puluh tahun setelah instruksi Muhammadiyah tersebut, pesan itu terasa semakin aktual. Dunia digital menghadirkan kecepatan luar biasa, tetapi tidak selalu menghadirkan kedalaman. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan belum tentu bertambah. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Karena itu, dakwah yang membawa semangat perdamaian bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan zaman.

Kaum muda memiliki posisi penting dalam konteks ini. Sebagaimana gagasan Muhammadiyah pada 1971, mereka semestinya bukan sekadar penonton dalam kegiatan keagamaan. Mereka adalah pelaku sejarah. Energi, kreativitas, literasi digital, dan keberanian mereka dapat diarahkan menjadi kekuatan dakwah yang mencerdaskan, mendamaikan, dan membangun solidaritas sosial.

Maka, barangkali Maulid terbaik adalah Maulid yang tidak selesai pada hari Maulid. Ia berlanjut dalam kejujuran seorang pedagang, keadilan seorang pemimpin, ketulusan seorang pendidik, kepedulian seorang warga, dan keberanian seorang anak muda untuk membela kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.

Nabi Muhammad SAW telah wafat lebih dari empat belas abad lalu. Namun, teladannya tidak pernah menjadi masa lalu. Ia hidup sejauh manusia bersedia menghidupkannya.

Maka memperingati Maulid pada akhirnya bukan hanya mengenang kapan Nabi dilahirkan. Yang jauh lebih penting ialah bertanya kepada diri sendiri: nilai apa dari kelahiran itu yang telah kita lahirkan kembali dalam kehidupan kita?

Jika jawabannya adalah kejujuran, perdamaian, kepedulian, keadilan, dan kemaslahatan, maka Maulid benar-benar telah berubah dari seremoni menjadi gerakan.

Dan di situlah cinta kepada Nabi menemukan bentuknya yang paling sunyi sekaligus paling nyata: menjadikan akhlaknya sebagai jalan hidup.

Wa Allahu a’lam.

Halaman:
1 2

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA
Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005 dan Rektor UM 2005-2013, Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Bagikan:
Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.

Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Artikel Shofwan Karim tentang transformasi kebudayaan sebagai soft power dalam membangun peradaban dunia yang damai, inklusif

Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...

Opini - 22 Juni 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.