Pemilu 2029: Masihkah Ideologi dan Identitas Partai Menentukan Pilihan Rakyat?


Shofwan Karim mengulas peran ideologi dan identitas partai politik dalam menentukan pilihan rakyat pada Pemilu 2029, termasuk

Shofwan Karim

Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Sabtu, 24 Oktober 2026 | Opini

Karena itu, pemilih di Sumatera Barat tidak pernah sepenuhnya terlepas dari pertimbangan ideologis. Mereka mungkin menyukai figur tertentu, tetapi figur tersebut tetap harus mampu menunjukkan keselarasan dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Di sinilah salah satu alasan partai-partai yang memiliki identitas religius dapat memperoleh tempat dalam peta politik daerah ini. Sementara itu, partai-partai nasionalis yang mampu mengintegrasikan agenda pembangunan dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal juga memiliki peluang untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Secara filosofis, keadaan ini menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya tidak hidup hanya dengan kepentingan material. Aristoteles pernah menyebut manusia sebagai makhluk politik yang hidup dalam komunitas. Sementara itu, pemikir Muslim seperti Al-Farabi menggambarkan masyarakat ideal sebagai komunitas yang dibangun atas dasar kebajikan. Dalam pandangan ini, politik bukan sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan, melainkan sarana mewujudkan kehidupan yang bermartabat.

Karena itu, ideologi tetap memiliki peran penting. Ideologi memberikan arah moral bagi kekuasaan. Ia menjadi kompas yang membedakan antara politik sebagai pengabdian dan politik sebagai transaksi. Tanpa ideologi, kebijakan berisiko hanya ditentukan oleh kepentingan sesaat. Tanpa orientasi nilai yang jelas, demokrasi dapat berubah menjadi arena persaingan pragmatis yang kehilangan arah etis.

Dalam perspektif agama, keberadaan ideologi bahkan memiliki makna yang lebih dalam. Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan harus berpijak pada nilai dan niat yang jelas. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan. Dalam tradisi Islam, pemimpin yang baik tidak hanya dinilai dari keberhasilannya memenangkan pemilihan, tetapi juga dari kemampuannya menegakkan keadilan dan menjaga martabat masyarakat.

Di sinilah tantangan besar partai politik menjelang Pemilu 2029. Mereka tidak cukup hanya menghadirkan kandidat yang populer. Mereka juga harus mampu menunjukkan konsistensi ideologis. Rakyat membutuhkan bukti bahwa nilai-nilai yang tertulis dalam platform benar-benar diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari integritas.

Bagi generasi muda, tantangan ini bahkan lebih penting lagi. Generasi digital hidup dalam banjir informasi yang begitu deras. Mereka setiap hari menyaksikan ujaran politik, kampanye media sosial, dan perdebatan publik yang sering kali penuh sensasi. Dalam situasi demikian, kemampuan membedakan antara ideologi dan pencitraan menjadi sangat penting. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang kritis, bukan sekadar pengikut tren politik sesaat.

Menjelang Pemilu 2029, dapat dikatakan bahwa ideologi partai belum kehilangan relevansinya. Yang berubah adalah cara ideologi itu hadir dalam ruang publik. Ia tidak lagi selalu tampil dalam bentuk doktrin yang kaku, tetapi hadir melalui simbol, narasi, karakter pemimpin, dan kebijakan yang dirasakan masyarakat sehari-hari.

Pada akhirnya, rakyat akan tetap mencari arah. Mereka mungkin terpesona oleh figur, dipengaruhi oleh media, atau tertarik oleh program-program praktis. Namun, ketika sampai pada pilihan yang menentukan masa depan bangsa, pertanyaan tentang nilai, moralitas, dan keberpihakan akan kembali muncul. Itulah wilayah ideologi yang sesungguhnya.

Maka, menuju Pemilu 2029, pertanyaan yang tepat bukanlah apakah ideologi partai masih menentukan pilihan rakyat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah partai-partai politik masih setia kepada ideologi dan nilai-nilai yang mereka nyatakan sendiri?

Sebab, sejarah politik mengajarkan satu pelajaran penting: rakyat dapat memaafkan kekurangan pemimpin, tetapi mereka sulit mempercayai partai yang kehilangan jati dirinya. Di tengah derasnya arus pragmatisme, ideologi tetaplah mercusuar yang memberi arah bagi pelayaran demokrasi. Ketika mercusuar itu padam, kekuasaan mungkin tetap diperoleh, tetapi makna perjuangan politik perlahan akan hilang ditelan gelombang zaman.

Wallahu a'lam.

Halaman:
1 2

Oleh:
Shofwan Karim
Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Pedoman Pemberitaan Media Siber & Hak Jawab
Mimbar Minang tunduk dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik serta Pedoman Pemberitaan Media Siber yang ditetapkan Dewan Pers. Apabila pembaca menemukan kekeliruan data atau bermaksud menyampaikan tanggapan dan hak koreksi, silakan hubungi redaksi melalui Kontak Redaksi.
Bagikan:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...

Opini - 08 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui...

Opini - 01 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim