Minangkabau adalah laboratorium hidup tentang bagaimana Islam dan adat lokal bisa berjalan harmonis. Falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK) bukan sekadar jargon, melainkan hasil dialektika panjang antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Minangkabau.
Proses akulturasi ini tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah hasil dari perjalanan berabad-abad, melibatkan para ulama, cendekiawan adat, dan masyarakat luas. Ada gesekan, ada perdebatan, namun pada akhirnya tercapai titik keseimbangan yang luar biasa.
Lihatlah bagaimana sistem matrilineal Minangkabau – yang sekilas tampak "bertentangan" dengan norma patriarki dalam masyarakat Arab – justru diakomodasi dan diharmonisasikan dengan ajaran Islam. Harta pusaka tetap diturunkan melalui garis ibu, sementara harta pencaharian mengikuti ketentuan faraid Islam.
Atau perhatikan bagaimana surau – yang awalnya adalah institusi pendidikan adat – bertransformasi menjadi pusat pembelajaran Islam. Di surau-surau inilah lahir ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam Bonjol, hingga Buya Hamka.
Akulturasi ini juga terlihat dalam arsitektur. Gonjong rumah gadang yang menjulang ke langit, dalam interpretasi sebagian ulama, melambangkan ketauhidan – bahwa segala sesuatu berasal dari dan kembali kepada Allah. Begitu pula dengan Masjid Raya Sumatera Barat yang memadukan arsitektur Minang dengan unsur-unsur Islam.
Di era globalisasi ini, tantangan terhadap harmoni adat dan Islam semakin kompleks. Arus modernisasi, sekularisme, dan radikalisme sama-sama mengancam keseimbangan yang telah terbangun berabad-abad. Kita perlu kembali mendalami filosofi ABS-SBK, bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai panduan menghadapi tantangan kontemporer.
Minangkabau telah membuktikan bahwa Islam tidak harus menghapus identitas lokal. Justru sebaliknya, Islam memperkaya dan menyempurnakan nilai-nilai positif yang sudah ada. Ini adalah model yang bisa menjadi kontribusi Minangkabau bagi peradaban Islam dunia.
Oleh:
Mas Abid
Ulama dan Budayawan Minangkabau
Kolom - 18 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Yuhanes Bastian Roja di Tengah Erosi Kepedulian
Opini - 11 Februari 2026
Oleh: H. Irman Gusman, SE., MBA.
Membaca yang Tersurat dan Tersirat Presiden Prabowo masuk...
Opini - 04 Februari 2026
Oleh: H. Irman Gusman, SE., MBA.