Upaya penyelamatan memori kolektif dan identitas budaya melalui toponimi atau asal-usul nama daerah kembali diperkuat dengan terbitnya naskah sastra lokal di Sumatera Barat. Budayawan muda Feni Efendi merilis buku terbarunya berjudul
Buyuang Amo: Tanam-tanaman di Payokumbuah nan Manjadi Namo-namo Daerahsebagai langkah literasi untuk menelusuri kaitan erat antara ekologi dan sejarah pemukiman.
Buku setebal 62 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Fahmi Karya ini unik karena menggunakan dialek Nagari Tiakar, Kota Payakumbuh. Narasi dibangun melalui dialog antara tokoh Buyuang Amo—representasi generasi Z—dengan mamaknya, Datuak Sati Bona di Langik. Melalui percakapan bernuansa humor namun sarat informasi ini, pembaca diajak menyelami alasan di balik penamaan wilayah yang kerap diambil dari nama tumbuhan endemik di kawasan tersebut.
Salah satu bahasan utama dalam buku ini adalah etimologi "Payakumbuh". Berdasarkan catatan dalam buku tersebut, nama ini merujuk pada kondisi geografis masa lalu yang berupa payau atau rawa yang ditumbuhi subur oleh tanaman kumbuah mansiang (Actinoscirpus grossus). Tanaman ini secara historis merupakan bahan baku utama kerajinan anyaman tradisional masyarakat setempat, seperti tikar dan tas.
Selain kumbuah, Feni Efendi menginventarisasi sejumlah tanaman lain yang mengkristal menjadi nama geografis, di antaranya:
Buku ini tidak sekadar mencatat toponimi, tetapi juga mendokumentasikan kearifan lokal terkait manfaat praktis tanaman tersebut. Diungkapkan bahwa masyarakat dahulu memanfaatkan tanaman-tanaman ini sebagai obat herbal untuk penyakit wasir, demam nifas, hingga luka luar.
Feni Efendi, pria kelahiran Tiakar tahun 1984, menegaskan dalam pengantarnya bahwa buku ini adalah bentuk tanggung jawab moral untuk melestarikan kekayaan bahasa dan alam bagi generasi muda. Sebagai penulis yang fokus pada memori kolektif dan sejarah publik, ia berharap karya ini dapat memantik rasa cinta masyarakat terhadap identitas lokalnya di tengah arus modernisasi.
Saat ini, buku ber-ISBN 978-623-8646-14-2 tersebut telah tersedia untuk publik sebagai bagian dari literatur Sastra Minang kontemporer.
Editor: Feni Efendi