Tahun 2025 akan dikenang sebagai tahun yang penuh ujian bagi Ranah Minang. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera Barat sejak akhir November telah meninggalkan duka mendalam sekaligus menguji ketangguhan kita sebagai bangsa.
Namun di balik kepedihan itu, ada secercah cahaya yang menyeruak. Solidaritas urang Minang, yang selama ini kita yakini sebagai karakter khas masyarakat Minangkabau, kembali terbukti nyata adanya. "Warga bantu warga" bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang terlihat di lapangan.
Dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan dari mancanegara, bantuan mengalir deras ke Ranah Minang. Para perantau Minang di Jakarta, Medan, Riau, hingga Malaysia dan Singapura, bergerak cepat menggalang dana dan mengirimkan bantuan. Inilah wujud nyata dari "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" – perantau Minang tidak pernah melupakan kampung halamannya.
Filosofi adat Minangkabau mengajarkan "sasakik sahilang, sasenang sabarenang" – satu sakit dirasakan bersama, satu senang dinikmati bersama. Prinsip ini menjadi perekat yang menyatukan seluruh anak nagari dalam menghadapi musibah. Tidak ada yang merasa sendirian dalam kesusahan.
Di tengah carut-marut bencana, kita juga menyaksikan bagaimana adat dan agama berjalan beriringan. Masjid-masjid menjadi posko bantuan, surau-surau menjadi tempat pengungsian. Para ulama dan ninik mamak bahu-membahu mengkoordinasikan bantuan. Falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK) tidak hanya menjadi simbol, tetapi hidup dalam praktik keseharian.
Tentu ada banyak hal yang perlu dievaluasi. Sistem peringatan dini yang belum optimal, tata ruang yang abai terhadap aspek kebencanaan, hingga degradasi lingkungan akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Memasuki tahun 2026, mari kita jadikan pengalaman pahit ini sebagai momentum untuk berbenah. Pembangunan yang ramah lingkungan, penguatan mitigasi bencana, dan pelestarian kearifan lokal dalam mengelola alam harus menjadi prioritas.
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip pepatah Minang: "Nan baiak budi, salamaik dunia jo akhiraik" – yang baik budi, selamat dunia dan akhirat. Semoga kebaikan yang kita taburkan dalam membantu sesama menjadi amal yang diterima di sisi-Nya.
Selamat tahun baru 2026. Semoga Ranah Minang segera pulih dan bangkit lebih kuat dari sebelumnya.
Oleh:
Dt. Rajo Mangkuto
Pemerhati Sosial Budaya Minangkabau
Kolom - 18 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Yuhanes Bastian Roja di Tengah Erosi Kepedulian
Opini - 11 Februari 2026
Oleh: H. Irman Gusman, SE., MBA.
Membaca yang Tersurat dan Tersirat Presiden Prabowo masuk...
Opini - 04 Februari 2026
Oleh: H. Irman Gusman, SE., MBA.