ADA SEUNTAI pepatah klasik Nusantara. Kaum Melayu Minangkabau melantunkannya: “Karatok mulo sahalai, lahia baradaik mako bakaum, kok jauah cinto-mancinto, kok dakek juluak-manjuluak.” (Karatak mulai sehelai, lahir beradat maka berkaum, kalau jauh cinta-mencintai, kalau dekat juluk-menjuluk).
Bait ini bukan pemanis kata, melainkan maklumat batin: merantau bagi manusia Nusantara adalah dialektika eksistensial. Ia panggilan metafisik, melipat jarak, membentang fana, menantang takdir di bumi asing, dan menenun lembaran sujud di hamparan bumi Allah.
Kaki melangkah menembus horizon dan mendarat di Edmonton—ibu kota Provinsi Alberta, Kanada—tubuh dihadapkan ke realitas alam empat musim. Musim keempat, musim dingin yang menggigit, merenggut kehangatan tropis, menyisakan hamparan salju membeku dan cakrawala yang acap kali dilingkupi sunyi.
Namun, di titik paling beku itulah identitas kultural dan keteguhan iman tidak lantas mencair. Api kerinduan pada kampung halaman dan tanah air justru memercik, mengkristal dalam kekuatan komunal yang dahsyat.
Diaspora Indonesia di Edmonton memberikan kesaksian genealogis yang benderang: sejauh apa pun jasad terlempar, kiblat batin tidak akan pernah bergeser.
Eksistensi komunitas ini bahu-membahu memakmurkan rumah ibadah di tanah seberang. Ini merupakan manifestasi konkret firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 18 mengenai keluhuran jiwa para pemakmur masjid.
Bagi perantau Nusantara, termasuk Minangkabau, falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) bertransformasi dari sekadar retorika masa lalu menjadi kompas hidup dan sistem pertahanan spiritual di tengah rimba sekularisme Barat.
Di sini, masjid bukan lagi sebatas bangunan fisik berkubah. Ia menjadi episentrum peradaban, tempat ingatan kolektif dan moralitas dirajut kembali. Mendirikan dan merawat ruang sujud adalah cara para diaspora membangun “rumah spiritual” sebelum kelak mereka menempuh perjalanan pulang menuju keabadian.

Secara historis, spiritualitas Islam di tanah Edmonton meniti jalan sunyi yang panjang dan berliku. Memutar memori hampir setengah abad silam, pada musim dingin tahun 1980, penulis teringat saat bermalam di kediaman Uda Ismal Sutan Kayo, seorang tokoh diaspora asal Tigo Baleh, Bukittinggi.
Kala itu, peta kehadiran Muslim di kota ini masih berada pada fase pascaembrionik. Penulis bersama 33 pemuda Indonesia yang tergabung dalam program Canada World Youth & Indonesia Youth Exchange harus merayakan Salat Iduladha di ujung barat Kanada tersebut.
Oleh:
Shofwan Karim
Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Alumni CWY-PPIK 1980--1985, Senior Advisor for President CEO-CWY 2013--2015 Montreal, Observer SU PBB 1984, 1988, 1998.
Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...
Opini - 18 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang
Esai - 16 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...
Kolom - 05 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.