Hati Tawana Musvaburi hancur berantakan. Sedihnya tak terukur. “Sebagai seorang Kristen saya sangat kecewa dengan sikap gereja yang tak peka dengan kebutuhan darurat,” ujar warga London berusia 26 tahun itu. “Ini harus menjadi panggilan bangun bagi gereja-gereja di Inggris.”
Pangkal mengecewakan perempuan Inggris-Afrika itu karena permintaannya—melalui telepon kepada 40 gereja dari berbagai denominasi—agar membantu sekaleng susu formula bagi bayinya yang berusia 2 bulan. “Saya seorang single parent dan tak punya uang,” katanya memelas. Ikhtiarnya kandas. Tak ada bantuan susu dari gereja meski segelas.
Sebagian besar respon gereja menanyakan apakah Tawana jemaat di gereja mereka atau bukan. Sebagian lain meminta lebih dulu mengisi formulir permohonan dan menunggu persetujuan pengurus gereja sebelum bantuan bisa diberikan. Ada juga yang menyarankan agar ia datang pada hari tertentu saat bank makanan dibuka di gereja untuk orang miskin sebagai respons. Ada gereja yang memberikan telpon lembaga lain seperti Salvation Army untuk dihubungi jika Tawana membutuhkan bantuan.
Ringkasnya: tak ada gereja yang mau membantu saat dibutuhkan.
Sebagai perbandingan, Tawana menelpon dua masjid di London. Masjid pertama menyuruhnya segera datang untuk mengambil bantuan. Masjid kedua menanyakan lebih spesifik jenis susu formula yang dibutuhkan agar mereka tidak salah memberikan. Saat Tawana menjelaskan dia bukan muslim, kedua masjid menyatakan tak masalah. “Semua orang harus dibantu, bukan hanya bagi muslim,” ujar pengurus masjid seperti yang diulangi Tawana.
Perbandingan jawaban antara pengurus dan pengurus gereja masjid itu yang membuat hati Tawana hancur berantakan. "Ini membuat saya sedih sebagai seorang Kristen. Saya bukan ingin mempermalukan agama saya sendiri. Saya ingin gereja kembali kepada akar ajaran yang membantu orang miskin tanpa kemajuan. Saya merasa gereja telah menjadi organisasi korporat daripada pusat pelayanan kasih."
Tawana tak mengungkap nama-nama gereja yang menolak membantu. Namun membuka data kedua masjid yang bersedia menolong, yakni Masjid Central London di dekat Regent's Park dan Masjid East London di Whitechapel. “Mereka memberikan bantuan tanpa bertanya agama saya atau memberikan syarat administratif berbelit. Gereja perlu belajar dari efisiensi dan kerendahan hati yang disucikan masjid dalam menjawab kebutuhan mendasar masyarakat,” ungkap konten kreator dan influencer itu.
Penampakan amarah atau eksperimen?
Hah, pembuat konten dan influencer? Apakah ini cuma tayangan kemarahan yang memancing? Semacam propaganda online untuk meningkatkan keterlibatan semata? Jawabannya: “ya” dan “tidak”.
Ya, Tawana (@tawanatr) adalah pencipta konten dan influencer. Ia tidak punya bayi berusia 2 bulan. Dan tersebab itu tak butuh susu formula. Tetapi ini juga bukan rage baiting nan provokatif dan sensasional.
Tawana hanya kembali sebuah eksperimen sosial di Amerika Serikat yang membuat gonjang-ganjing Negeri Paman Sam sepanjang paruh kedua tahun 2024. The Nikalie Experiment. Anda pernah mendengarnya?
Jika belum, berikut ini ringkasannya. Nikalei Monroe, umur 41 tahun, tinggal di Kentucky, Amerika Serikat. Perempuan Berdarah Kaukasia ini adalah seorang konselor bagi pecandu narkoba. Namun suatu hari di tahun 2024 ia mendapat ide untuk melakukan sebuah eksperimen TikTok. Caranya? Persis seperti yang diulangi kemudian oleh Tawana di Inggris.
Oleh:
Akmal Nasery Basral
Sosiolog, penulis, jurnalis. Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Sosial