Ketika Puasa Tidak Ada Gunanya


Artikel oleh Shofwan Karim membahas esensi puasa yang sesungguhnya. Menghubungkan praktik ibadah dengan perbaikan akhlak berd

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Rabu, 25 Februari 2026 | Kolom

“Saudara-saudara bisa berdoa lima kali sehari. Namun, kalau akhlakmu, tetap buruk, tidak ada gunanya. Saudara-saudara bisa berdoa dengan teratur, akan tetapi bila mana saudara tetap rakus, kikir, tidak mempunyai rasa prihatin terhadap orang miskin dan berkekurangan, maka doamu tidak akan diterima oleh Allah. Saudara tidak akan masuk surga akan tetapi neraka”.

“Saudara bisa menyelesaikan tugas puasa. Namun, bilamana saudara tetap berdusta, bohong atau menipu orang lain, masih berlaku sombong, tidak ada gunanya berpuasa.”

“Puasamu tidak akan diakui oleh Allah. Nabi berkata: 'Saya diutus kepada kamu untuk memperbaiki akhlakmu, budi pekerti.' Karena itu, mari kita berdoa, berpuasa. Naik haji, membayar sedekah, dan di atas segala-galanya ini, mari kita memperbaiki akhlak, budi pekerti kita.”

Narasi di atas adalah bagian dari kutipan ceramah Ketua Muhammadiyah A.R. Fakhruddin, di hadapan suatu pertemuan anggota Cabang Muhammadiyah Kotagede di akhir 1971.

Prof. Emiritus Mitsuo Nakamura (95 tahun), mendengar langsung, ditulis pada muka 65 dari buku setebal 715 halaman, Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023, Yayasan Obor, 2025.

Pengamatan 50 tahun Nakamura itu mencakup perubahan sosial, politik, dan budaya yang signifikan di Indonesia. Melalui kajian antropologi, Nakamura memotret perkembangan praktik keagamaan, interaksi sosial, serta dinamika identitas Muslim di berbagai ranah Masyarakat.

Pada sumber lain, paling tidak terdapat lima unsur dalam dimensi religiusitas (keberagamaan). Pertama, dimensi pengalaman. Kedua dimensi ideologis. Ketiga, dimensi ritual. Keempat dimensi intelektual ideal. Kelima dimensi konsekuential.

Dari kelima unsur tadi, dimensi pertama (pengalaman) dan dimensi ketiga (ritual) tampaknya lebih populer. Budaya yang seakan ibadah menyertai puasa sebagai komplementer, termasuk berbagai tradisi.

Beberapa di antaranya ziarah kubur, mandi balimau, mengantar perbukaan ke rumah mertua, ikuti ceramah agama di Masjid dan Musalla, ramainya tarawih. Semua itu bagi budaya populer merupakan ibadah. Ada yang bersifat perorangan. Tak kurang pula sebagai menjemput pengakuan lingkungan dan sosial.

Puasa sejati bukan sekadar menahan lapar dan dahaga di depan hidangan, melainkan menjadi cermin untuk merefleksikan diri. apalah arti ibadah jika hati masih menyimpan dusta, kikir, dan kesombongan? sejatinya, puasa adalah jalan untuk memperbaiki akhlak dan kepedulian sosial kita.
Puasa sejati bukan sekadar menahan lapar dan dahaga di depan hidangan, melainkan menjadi cermin untuk merefleksikan diri. Apalah arti ibadah jika hati masih menyimpan dusta, kikir, dan kesombongan? Sejatinya, puasa adalah jalan untuk memperbaiki akhlak dan kepedulian sosial kita.

Puasa sebagai perilaku menahan nafsu dan lapar serta segala yang membatalkan seharusnya merupakan awal penerimaan pribadi terhadap ibadah ini. Akan tetapi rupanya puasa bukan hanya untuk diri dan berharap balasan Allah tetapi juga meracik budaya populer. Lantaran itu puasa kelihatan lebih “heboh” atau viral di kelompok tertentu sementara ada kelompok yang “adem” saja.

Halaman:

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Bagikan:
Opini Shofwan Karim mengenai pelaksanaan Pesantren Ramadhan, program Smart Surau (SS), dan Bina Iman di bawah kepemimpinan Wa

Pesantren Ramadhan dalam Cinta dan Iman

Opini - 03 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Artikel mengenai makna rekognisi Allah dan sosial dalam ibadah puasa, perbedaan penetapan Ramadan 2026, serta pendekatan antr

Puasa dan Rekognisi Sosial

Kolom - 22 Februari 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Membahas makna puasa melalui perpaduan fikih klasik Al-Ghazali dan pandangan kontemporer Buya Hamka serta Yusuf al-Qardhawi d

Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial

Kolom - 21 Februari 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Kolom oleh Shofwan Karim: Puasa bukan sekadar menahan lapar fisik, melainkan proses spiritual (teologi puasa). Ibadah puasa d

Puasa, Teologi Pengampunan Dosa

Kolom - 19 Februari 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Puasa adalah ibadah universal yang hadir dalam berbagai tradisi agama. Dr. Shofwan Karim mengupas makna spiritual puasa dalam

Puasa, Ibadah Universal

Kolom - 18 Februari 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.