Ketika Puasa Tidak Ada Gunanya


Artikel oleh Shofwan Karim membahas esensi puasa yang sesungguhnya. Menghubungkan praktik ibadah dengan perbaikan akhlak berd

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Rabu, 25 Februari 2026 | Kolom

Bahasa halusnya, untuk kemajuan dalam hidup bernegara dan berbangsa. Maka perlu moderasi beragama. Deradikalisasi. Pembinaan kerukunan. Pendidikan berdasarkan cinta dan seterusnya. Aura agama menjadi jembatan kohesi sosial untuk kelanggengan dan keharmonisan masyarakat.

Ringkasnya, antropologi agama melihat bagaimana kepercayaan (iman) diterjemahkan ke dalam tindakan kolektif dalam masyarakat. Puasa, membawa perubahan budaya ke yang lebih baik.

Jadilah narasi KH AR Fakhruddin pada paragrap awal tadi tetap relevan, “bila masih berbohong, maka tak ada gunanya berpuasa”. Mengapa? Berbohong adalah akar dan induk dari semua penyelewengan hidup, korupsi dan manipulasi ***

Halaman:
1 2 3

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Bagikan: