Bahasa halusnya, untuk kemajuan dalam hidup bernegara dan berbangsa. Maka perlu moderasi beragama. Deradikalisasi. Pembinaan kerukunan. Pendidikan berdasarkan cinta dan seterusnya. Aura agama menjadi jembatan kohesi sosial untuk kelanggengan dan keharmonisan masyarakat.
Ringkasnya, antropologi agama melihat bagaimana kepercayaan (iman) diterjemahkan ke dalam tindakan kolektif dalam masyarakat. Puasa, membawa perubahan budaya ke yang lebih baik.
Jadilah narasi KH AR Fakhruddin pada paragrap awal tadi tetap relevan, “bila masih berbohong, maka tak ada gunanya berpuasa”. Mengapa? Berbohong adalah akar dan induk dari semua penyelewengan hidup, korupsi dan manipulasi ***
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.
UU Tipikor Masih Lex Specialis? Membaca Ancaman Nyata KUHP...
Opini - 23 Juni 2026
Oleh: Dzikri Aziz Rahman
Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...
Opini - 22 Juni 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.