Menyambung Rasa di Bulan Suci: Menelisik Jejak Safari Ramadhan bagi Gen Z


Artikel ini mengulas sejarah Safari Ramadhan dari era Orde Baru (Harmoko) hingga transformasinya di masa kini sebagai jembata

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat

Senin, 09 Maret 2026 | Kolom

Bagi generasi Digital Native seperti Bilal Dexano Alardo Adam—atau yang akrab disapa Bill—dunia adalah layar gawai yang menawarkan akses tanpa batas. Remaja satu di antara Gen Z yang berusia 14 hingga 29 tahun ini tumbuh besar dengan teknologi di genggaman, membuat mereka mahir berselancar mencari informasi apa pun, mulai dari isu geopolitik global hingga kajian agama di YouTube.

Di sela kekhusyukannya menikmati fasilitas internet gratis di masjid melalui program Smart Surau, Bill terusik oleh sebuah pengumuman: Tim Safari Ramadhan Provinsi akan datang berkunjung. Sebuah istilah yang terdengar asing bagi generasinya. Didorong rasa penasaran, jemarinya lincah mencari tahu melalui bantuan AI.

Akar Sejarah: Diplomasi "Sambung Rasa" ala Harmoko

Ternyata, Safari Ramadhan bukanlah tradisi baru. Kegiatan ini merupakan warisan era Orde Baru yang digagas oleh Harmoko, Menteri Penerangan legendaris yang menjabat selama tiga periode (1983–1997). Sepertinya ada filosofi komunikasi di bawah akar Safari Ramadhan. Ia merupakan wujud nyata dari konsep "Komunikasi Sambung Rasa".

Dengan mekanisme Pemerintah tidak hanya diam di kantor, tetapi turun ke desa-desa untuk berdialog langsung dengan rakyat setelah salat Tarawih. Di forum inilah petani bisa mengeluhkan sulitnya pemasaran hasil bumi, ulama menyampaikan kritik, hingga masyarakat mengusulkan pembangunan stasiun televisi.

Harmoko sendiri adalah seorang mantan jurnalis dan Ketua Umum PWI yang kemudian menjadi tangan kanan Presiden Soeharto dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Menjadi Ketua Umum DPP Golkar dan Ketua DPR-MPR di masa peralihan Orba ke Orde Reformasi peralihan abad lalu.

Tangan kanan Soeharto ini seakan legendaris. Bahkan Pak Harto sendiri bisa tertawa terkekeh, ketika Harmoko bilang, “menurut petunjuk Bapak Presiden”. Suasana itu sering terjadi di hadapan warga ratusan orang hadir dalam agenda Temu Rasa Kelompecapir (Kelompok Pendengar Pembaca dan Pemirsa) yang sekali-sekali menampilkan Presiden yang telah kini dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional itu.

Di layar tablet, gen z menelisik sejarah; di dunia nyata, 'menyambung rasa' bersemi kembali.
Di Layar Tablet, Gen Z Menelisik Sejarah; Di Dunia Nyata, 'Menyambung Rasa' Bersemi Kembali.

Transformasi di Era Modern

Meski masa kepemimpinan Harmoko telah berlalu, semangat Safari Ramadhan tidak ikut redup. Tradisi ini telah bertransformasi dari program resmi pemerintah pusat menjadi inisiasi lokal yang subur di berbagai daerah, khususnya di Sumatera Barat.

Tim dimodifikasi. Jika dulu berpusat pada kementerian, kini tim dipecah menjadi rombongan kecil yang dipimpin oleh Gubernur, Wali Kota, Bupati, akademisi, hingga ulama. Sasaran adalah remote area. Fokus utamanya adalah menembus daerah terisolir yang jauh dari pusat pemerintahan. Tim membawa bantuan nyata. Kunjungan ini biasanya dibarengi dengan penyaluran bantuan untuk perbaikan rumah ibadah dan keperluan keagamaan.

Inti yang Tak Berubah

Sebagaimana dijelaskan kakek Bilal, inti dari Safari Ramadhan tetaplah sama sejak dulu hingga sekarang: menyerap aspirasi. Ini adalah ikhtiar untuk memastikan suara masyarakat di tingkat akar rumput tetap terdengar oleh para pemangku kebijakan.

Bagi Gen Z seperti Bill, Safari Ramadhan bukan sekadar acara seremonial, melainkan jembatan komunikasi antara rakyat dan pemimpin demi merajut kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.

Halaman:

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat

Bagikan:
Sebuah refleksi mendalam tentang konflik global modern, kegagalan diplomasi, pelanggaran etika perang, serta urgensi perdamai

Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal

Opini - 17 April 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Tulisan reflektif tentang peran dan pengorbanan prajurit perdamaian Indonesia dalam misi PBB, dari sejarah Kontingen Garuda h

Catatan Seorang Prajurit Perdamaian

Esai - 04 April 2026

Oleh: Sudadi

Refleksi tentang kebahagiaan, iman, dan tanggung jawab sosial dalam perspektif Islam berdasarkan temuan Global Flourishing St

Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Opini - 31 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.