Di atas hamparan bumi yang sama, manusia bersujud mengecup debu demi Tuhan yang satu. Namun, ironisnya, di saat yang bersamaan tanah itu memerah oleh darah yang mereka tumpahkan sendiri. Ada kegetiran yang mendalam ketika suara yang bergetar melantunkan ayat-ayat suci dan tangan yang menengadah memohon rahmat, justru menjadi tangan yang sama yang menggenggam gagang senjata dengan jemari kaku.
Sebuah tanya kemudian lahir, merayap sunyi namun menghantui dinding nurani: Jika Tuhan adalah samudera kebaikan, mengapa manusia berulang kali memilih menjadi badai yang saling menghancurkan?

Dunia hari ini menjadi saksi bisu bagaimana bangsa-bangsa besar—Amerika Serikat, Israel, hingga Iran—saling melemparkan angkara melalui rudal-rudal pemusnah. Langit seolah tak lagi menjadi muara bagi doa-doa yang tulus, melainkan sekadar lintasan bagi mesin-mesin pembawa maut.
Serangan udara merobek keheningan kota, membalas dentuman dengan dentuman yang lebih memekakkan telinga. Gelombang rudal melintasi cakrawala tanpa membawa nurani; hanya butuh satu tekanan tombol dari ruang kendali untuk mengirimkan kehancuran ke titik ribuan kilometer jauhnya. Tak ada lagi tatap muka yang berpotensi menumbuhkan empati. Yang tersisa hanyalah kalkulasi korban yang terus bertambah dalam dinginnya deret angka.
Di tengah hiruk-pikuk kehancuran tersebut, nama Tuhan kerap diteriakkan sebagai pembenar atas tangan-tangan yang saling mencengkeram leher sesamanya.
Manusia sering kali mencari perlindungan di balik lembaran kitab suci untuk membenarkan agresinya. Padahal, jika dibaca dengan kebeningan hati, ayat-ayat tersebut hadir sebagai peringatan keras agar manusia tidak melampaui batas kodratnya.
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas..." (QS. Al-Baqarah: 190).
Itu adalah sebuah garis batas yang sederhana, namun terasa seberat memikul gunung bagi mereka yang telah dirasuki amarah. Ajakan untuk condong pada perdamaian sering kali disalahartikan sebagai bentuk kekalahan, menjadi suara parau yang tenggelam di tengah riuhnya genderang perang.
Dalam tradisi teologis lainnya pun pesannya serupa. Kemuliaan tidak dianugerahkan kepada sang penakluk, melainkan kepada mereka yang membawa damai. Pahlawan sejati bukanlah dia yang merobohkan musuh di medan laga, melainkan dia yang memiliki keberanian untuk menghentikan aliran darah.
Mengapa darah masih tumpah? Barangkali karena manusia modern lebih mencintai egonya daripada esensi keyakinan yang ia bela. Kita sering kali lebih berani mengangkat senjata daripada menahan gelegak amarah. Kita lebih suka merasa paling benar tanpa pernah berani bertanya: "Apakah Tuhan benar-benar tersenyum melihat semua kehancuran ini?"
Perang yang paling purba dan paling sulit dimenangkan bukanlah melawan musuh di seberang parit, melainkan melawan dorongan gelap di dalam dada—keinginan purba untuk membalas dendam dan menang sendiri. Di sanalah ayat-ayat Tuhan benar-benar diuji keampuhannya: bukan di medan tempur yang berdebu, melainkan di dalam palung hati manusia.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pesan Hamka, Ramadhan dan Idul Fitri Dibawa Sepanjang Tahun
Kolom - 26 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Boleh Berbeda, Tetap dalam Kebersamaan
Kolom - 21 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.