Simfoni Luka: Antara Ayat Suci dan Amuk Manusia


"Sebuah esai reflektif tentang ironi perang dan agama, menyoroti bagaimana ayat suci seharusnya menjadi rem bagi amarah,

Sudadi

Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Minggu, 29 Maret 2026 | Opini

Di atas hamparan bumi yang sama, manusia bersujud mengecup debu demi Tuhan yang satu. Namun, ironisnya, di saat yang bersamaan tanah itu memerah oleh darah yang mereka tumpahkan sendiri. Ada kegetiran yang mendalam ketika suara yang bergetar melantunkan ayat-ayat suci dan tangan yang menengadah memohon rahmat, justru menjadi tangan yang sama yang menggenggam gagang senjata dengan jemari kaku.

Sebuah tanya kemudian lahir, merayap sunyi namun menghantui dinding nurani: Jika Tuhan adalah samudera kebaikan, mengapa manusia berulang kali memilih menjadi badai yang saling menghancurkan?

Dua realitas yang saling bertentangan secara visual: di sisi kiri, kehancuran perang akibat
Dua realitas yang saling bertentangan secara visual: di sisi kiri, kehancuran perang akibat "Amuk Manusia" yang didorong oleh ego dan pembalasan (dengan bangunan runtuh, rudal, tank, dan teks 'Tanah Memerah'); berhadapan dengan sisi kanan yang damai, tempat orang-orang beribadah secara lintas agama (di masjid dan gereja, membaca Al-Qur'an dan Alkitab) diiringi teks "Ayat Suci... Pembawa Damai... Menjaga Kehidupan". Di jurang pemisah di tengah, figur seorang veteran perdamaian Indonesia (PBB) tersenyum dan mengangkat tangan dalam isyarat berkat, menjadi simbol harapan dan jembatan menuju kedamaian di antara dua dunia tersebut.

Langit yang Tak Lagi Menampung Doa

Dunia hari ini menjadi saksi bisu bagaimana bangsa-bangsa besar—Amerika Serikat, Israel, hingga Iran—saling melemparkan angkara melalui rudal-rudal pemusnah. Langit seolah tak lagi menjadi muara bagi doa-doa yang tulus, melainkan sekadar lintasan bagi mesin-mesin pembawa maut.

Serangan udara merobek keheningan kota, membalas dentuman dengan dentuman yang lebih memekakkan telinga. Gelombang rudal melintasi cakrawala tanpa membawa nurani; hanya butuh satu tekanan tombol dari ruang kendali untuk mengirimkan kehancuran ke titik ribuan kilometer jauhnya. Tak ada lagi tatap muka yang berpotensi menumbuhkan empati. Yang tersisa hanyalah kalkulasi korban yang terus bertambah dalam dinginnya deret angka.

Di tengah hiruk-pikuk kehancuran tersebut, nama Tuhan kerap diteriakkan sebagai pembenar atas tangan-tangan yang saling mencengkeram leher sesamanya.

Ayat sebagai Rem, Bukan Pemicu

Manusia sering kali mencari perlindungan di balik lembaran kitab suci untuk membenarkan agresinya. Padahal, jika dibaca dengan kebeningan hati, ayat-ayat tersebut hadir sebagai peringatan keras agar manusia tidak melampaui batas kodratnya.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas..." (QS. Al-Baqarah: 190).

Itu adalah sebuah garis batas yang sederhana, namun terasa seberat memikul gunung bagi mereka yang telah dirasuki amarah. Ajakan untuk condong pada perdamaian sering kali disalahartikan sebagai bentuk kekalahan, menjadi suara parau yang tenggelam di tengah riuhnya genderang perang.

Dalam tradisi teologis lainnya pun pesannya serupa. Kemuliaan tidak dianugerahkan kepada sang penakluk, melainkan kepada mereka yang membawa damai. Pahlawan sejati bukanlah dia yang merobohkan musuh di medan laga, melainkan dia yang memiliki keberanian untuk menghentikan aliran darah.

Perang Terbesar: Takhta di Dalam Dada

Mengapa darah masih tumpah? Barangkali karena manusia modern lebih mencintai egonya daripada esensi keyakinan yang ia bela. Kita sering kali lebih berani mengangkat senjata daripada menahan gelegak amarah. Kita lebih suka merasa paling benar tanpa pernah berani bertanya: "Apakah Tuhan benar-benar tersenyum melihat semua kehancuran ini?"

Perang yang paling purba dan paling sulit dimenangkan bukanlah melawan musuh di seberang parit, melainkan melawan dorongan gelap di dalam dada—keinginan purba untuk membalas dendam dan menang sendiri. Di sanalah ayat-ayat Tuhan benar-benar diuji keampuhannya: bukan di medan tempur yang berdebu, melainkan di dalam palung hati manusia.

Halaman:

Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Bagikan:
Refleksi tentang kebahagiaan, iman, dan tanggung jawab sosial dalam perspektif Islam berdasarkan temuan Global Flourishing St

Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Opini - 31 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Artikel oleh Dr. Shofwan Karim yang membahas hakikat fitrah, ketenangan hati, dan relevansi pemikiran tasawuf modern Buya Ham

Pesan Hamka, Ramadhan dan Idul Fitri Dibawa Sepanjang Tahun

Kolom - 26 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Artikel 'Boleh Berbeda, Tetap dalam Kebersamaan' oleh Shofwan Karim tentang Idul Fitri 1447 H, pentingnya persatuan umat, ser

Boleh Berbeda, Tetap dalam Kebersamaan

Kolom - 21 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.