Dalam Etika Kristiani, prinsip "Just War" atau perang yang adil tetap menempatkan perlindungan bagi mereka yang lemah sebagai muara terakhir.
Secara global, Konvensi Jenewa telah memahat janji untuk menjauhkan tangan-tangan besi dari warga sipil, tenaga medis, dan rumah-rumah Tuhan. Namun, teks-teks luhur itu kini tampak seperti ornamen antik yang indah namun tak bermakna ketika dipaksa berhadapan dengan kenyataan rudal di lapangan.
Tragedi yang meletus sejak ujung Februari 2026 menjadi saksi bisu betapa teks etika telah dikhianati oleh konteks kekuasaan yang buta. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke jantung Iran telah menuliskan duka di dinding-dinding sekolah dan pemukiman.
Angka-angka yang muncul sangatlah menyayat hati. Lebih dari 1.600 jiwa warga sipil Iran gugur, sementara catatan lain mengonfirmasi setidaknya 1.300 nyawa telah terbang. Di sisi lain, serangan balasan Iran ke Israel pun menyisakan residu duka bagi belasan hingga puluhan warga sipil. Begitu pula di Lebanon dan beberapa yang terimbas kawasan perang ini.
Angka-angka ini bukanlah sekadar statistik dingin yang bisa dipertukarkan di meja judi politik; mereka adalah kehidupan, cita-cita, dan cinta yang pupus akibat kegagalan kita menjaga narasi damai.
Oleh karena itu, satu-satunya jalan rasional yang tersisa adalah memaksa semua pihak untuk menanggalkan jubah militeristik mereka yang pongah dan kembali ke meja perundingan dengan kejujuran yang telanjang.
Perang harus dihentikan, bukan karena salah satu pihak telah memenangkan catur maut ini, melainkan karena semua pihak harus sadar bahwa kemanusiaan telah kalah dengan telak.
Kita tidak boleh membiarkan warga bumi terus-menerus dihadapkan pada paradoks nurani: sebuah pembelahan batin yang ekstrim antara teks yang memuja memelihara kehidupan dan konteks yang memuja terjangan mesiu, bom, serta peluru.
Harapan kita satu. Diperlukan tekanan global yang lebih masif untuk memastikan bahwa tidak ada lagi peluru kendali yang dilesatkan atas nama "keadilan" yang semu dan manipulatif.
Sesuai fitrah setiap makhluk yang bernapas di planet ini, tak ada yang merindukan kehancuran; kita semua hanya ingin merajut hidup dalam harmoni yang utuh.
Perdamaian tanpa syarat harus menjadi satu-satunya agenda yang tersisa. Sebab pada akhirnya, "No War Make Peace" bukan lagi sekadar slogan di atas poster, melainkan satu-satunya rakit yang tersisa agar peradaban kita tidak karam menjadi abu yang dilupakan sejarah.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.