Jangan sampai kritik yang seharusnya menjadi bagian dari mekanisme pengawasan demokrasi justru dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, jangan pula tindakan yang benar-benar melanggar hukum berlindung di balik alasan kebebasan berpendapat.
Di sinilah pentingnya kejernihan berpikir. Jangan mudah menuduh, tetapi jangan pula meremehkan ancaman yang nyata.
Sebab, negara yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus: kekuasaan yang tidak antikritik dan masyarakat yang tidak kehilangan akal sehat.
Pemerintah harus memahami bahwa kritik merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Sementara itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Keduanya harus ditempatkan secara proporsional. Negara memiliki kewajiban menjaga keamanan dan kedaulatan, tetapi kewenangan tersebut harus dijalankan berdasarkan hukum. Masyarakat memiliki hak menyampaikan pendapat, tetapi hak tersebut juga harus digunakan secara bertanggung jawab.
Demokrasi tidak akan tumbuh dalam suasana ketakutan. Demokrasi juga tidak akan sehat apabila kebebasan dipahami tanpa batas dan tanggung jawab.
Barangkali, di tengah ramainya perbincangan hari ini, kita perlu lebih banyak mikir daripada saling curiga.
Jangan sampai yang sedang mikir dianggap makar. Dan jangan sampai yang benar-benar makar justru luput karena kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang boleh berpikir.
Negara tidak akan kuat karena rakyatnya takut berpikir. Negara akan kuat apabila kekuasaan dan rakyat sama-sama menggunakan akal sehat.
Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada aparat, kekuasaan, atau perangkat hukumnya, tetapi juga pada kematangan berpikir masyarakat dan kebijaksanaan para penyelenggara negaranya.
Jadi, mari lebih banyak mikir. Jangan sedikit-sedikit makar!
Oleh:
Sudadi
Kapustak Mabes LVRI
Restorasi Peradaban: Mendiagnosis Krisis Modernitas melalui...
Opini - 25 Oktober 2026
Oleh: Shofwan Karim
Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...
Opini - 08 Oktober 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.