Maghrib yang Tergadai: Paradoks Senja di Tanah Minang


Sefriza Rahma, S.Pd.I

Sefriza Rahma, S.Pd.I

Guru Matematika SMP Negeri 8 Payakumbuh

Minggu, 18 Januari 2026 | Opini

Keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa lama kita bercengkrama dengan kawan di bawah temaram lampu kafe, melainkan seberapa cepat kita merespons panggilan Pencipta. Sudah saatnya kita mengembalikan marwah Minangkabau. Mari jadikan Maghrib sebagai momentum untuk pulang. Pulang ke rumah, pulang ke masjid, dan yang terpenting: pulang kepada jati diri kita sebagai hamba yang taat dan berbudaya.

Halaman:
1 2

Oleh:
Sefriza Rahma, S.Pd.I
Guru Matematika SMP Negeri 8 Payakumbuh

Bagikan:
Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Artikel Shofwan Karim tentang transformasi kebudayaan sebagai soft power dalam membangun peradaban dunia yang damai, inklusif

Pesona Budaya: Transformasi Kuasa Lunak Menuju Peradaban...

Opini - 22 Juni 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.