Maghrib yang Tergadai: Paradoks Senja di Tanah Minang


Sefriza Rahma, S.Pd.I

Sefriza Rahma, S.Pd.I

Guru Matematika SMP Negeri 8 Payakumbuh

Minggu, 18 Januari 2026 | Opini

Keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa lama kita bercengkrama dengan kawan di bawah temaram lampu kafe, melainkan seberapa cepat kita merespons panggilan Pencipta. Sudah saatnya kita mengembalikan marwah Minangkabau. Mari jadikan Maghrib sebagai momentum untuk pulang. Pulang ke rumah, pulang ke masjid, dan yang terpenting: pulang kepada jati diri kita sebagai hamba yang taat dan berbudaya.

Halaman:
1 2

Oleh:
Sefriza Rahma, S.Pd.I
Guru Matematika SMP Negeri 8 Payakumbuh

Bagikan: