Puasa, Ibadah Universal


Puasa adalah ibadah universal yang hadir dalam berbagai tradisi agama. Dr. Shofwan Karim mengupas makna spiritual puasa dalam

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Rabu, 18 Februari 2026 | Kolom

Semua Puasa yang  dilaksanakan baik sebagai kewajiban maupun sebagai tradisi  penganut agama-agama tadi, bila dirangkum  mempunyai makna universal di seluruh umat manusia dalam  batas waktu dan cara masing-masing.  

Universalitas Puasa. Di antara makna universal itu antara lain: (1) Penyucian (purifikasi) dalam pemahaman membersihkan tubuh dari racun fisik dan membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk; (2) Empati dan kohesi sosial yang berarti  menumbuhkan rasa solidaritas terhadap orang-orang yang kelaparan dan kurang beruntung; (3) Disiplin diri, melatih kehendak dan kontrol atas nafsu dasar manusia; (4) Komitmen, keteguhan  dan sinkronisasi spiritual dengan mengurangi fokus pada kebutuhan jasmani agar dapat lebih fokus pada hubungan dengan Tuhan atau dimensi transendental. 

Dari semua yang bersifat hakiki universal tadi tentulah tidak sama dalam pelaksanaan yang parsial masing-masing agama. Puasa kaum Muslimin adalah menahan lapar dan haus serta menahan segala yang membatalkannya dari sebelum fajar-subuh atau imsak sesudah sahur sampai waktu maghrib-berbuka. Lebih sempurna dengan tetap konsiten menjalankan ibadah wajib dan  sunnah lainnya.

Pada agama dan tradisi lain, ada yang puasa sampai 40 hari. Namun itu bukan seperti Islam. Mereka ada yang boleh makan sekali sehari. Berpantang makan daging. Berpantang merokok. Pantang garam, dan atau pantang gula dan semua manisan seperti permen,  atau pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film, dan sebagainya. Dari semua aneka macam praktik dan pantangan itu tetap tidak mengurangi makna  universalitasnya.

Dengan demikian, apapun agamanya puasa merupakan keseimbangan fisik dan pengukuhan  spiritual, hati nurani serta solidaritas (kesetiaan) menyatukan umat manusia dalam upaya memperbaiki kualitas diri secara lahir maupun batin. ***

Halaman:
1 2

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Bagikan:
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.

Air mata Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menjadi simbol dedikasi, keikhlasan, dan akhir sebuah era. Simak refleksi filo

Tangis Ronaldo dan Pelajaran Ikhlas dari Piala Dunia 2026:...

Opini - 11 Juli 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.