Puasa dan Rekognisi Sosial


Artikel mengenai makna rekognisi Allah dan sosial dalam ibadah puasa, perbedaan penetapan Ramadan 2026, serta pendekatan antr

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Minggu, 22 Februari 2026 | Kolom

Hadis Kudsi. Di dalam sebuah hadist qudsi (isi, makna hakiki dari Allah, kalamullah, sementara lafaz, teks, matan, oleh Nabi Muhammad saw) diriwayatkan oleh Bukhari No 1761 dan Muslim No 1946 dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu'alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, 'semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia (puasa) untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.

Penggalan ujung kalimat hadist qudsi itu, disebut rekognisi Allah terhadap ibadah puasa muslim. Kapan kita tahu rekognisi Allah itu? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Secara umum kata rekognisi adalah pengakuan, penghargaan, atau pengenalan resmi terhadap kompetensi, prestasi, pengalaman sesorang. Dalam hal ini ibadah puasa. Dimulai dari rekognisi awal Ramadhan sebagai racikan syariah dan antropo-puasa (berpuasa di sisi kemanusian). Menurut beberapa media, berpuasa yang dimulai tanggal 18 Februari ada 13 negara. Sementara yang menyatakan resmi puasa dimulai 19 Februai adalah 20 negara, termasuk Indonesia.

Meski sudah diterapkan 2018, imkanur rukyat 3’ (derjat) tetapi baru benar-benar disepakati oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) tahun 2022. Dan dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah yang sudah puluhan tahun menerapkan hisab hakiki, wujudul hilal di tanah air berdasar hitungan astronomi, baru tahun ini (2026) merujuk resmi penerapan HKGT (Hijrah Kalender Global Tunggal) bersama 13 negara yang memulai 1 Ramadan 18 Februari tadi. Di antara negara-negara itu adalah Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Sudan, Palestina, Kuwait, Yaman, Bahrain, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis dan Amerika.

Harmoni antropo-puasa: visualisasi rekognisi sosial dalam ibadah puasa yang memadukan kedalaman spiritual hadis qudsi dengan realitas budaya masyarakat. gambar ini merefleksikan penerapan kalender hijriah global tunggal (hkgt) yang menghubungkan umat muslim di berbagai belahan dunia dalam satu kesatuan waktu dan tradisi.
Harmoni Antropo-puasa: Visualisasi rekognisi sosial dalam ibadah puasa yang memadukan kedalaman spiritual Hadis Qudsi dengan realitas budaya masyarakat. Gambar ini merefleksikan penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (HKGT) yang menghubungkan umat muslim di berbagai belahan dunia dalam satu kesatuan waktu dan tradisi.

Antropo-puasa

Di dalam antropo-puasa, rekognisi pribadi dan sosial terhadap perilaku berpuasa seorang muslim tak lengkap kalau hanya disigi dari konteks fikih, ayat dan hadis atau teologi, ilmu tauhid dan ilmu kalam atau akidah semata. Lebih jauh praktik puasa dapat pula diamati dan dilengkapi dengan prilaku nyata dalam bentuk kebiasaan, budaya dan apa yang sesungguhnya tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Terhadap hal itu dapat mengunakan pisau analisis pendekatan agama dalam kehidupan nyata. Di antaranya melalui ranah antropologi. Pendekatan manusia dan kebudayaan. Pengkajian agama berdasarkan budaya atau mengkaji manusia yang beragama.

Di dalam buku teks Pengantar Anropologi Agama pada berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi Islam (PTI) dikatakan Agama sebagai konstruksi budaya tidak menilai kebenaran ajaran agama, normatif, teks dan doktrin, melainkan bagaimana manusia menghayati, menanamkan agama dan mempraktikkannya, kebudayaan atau budaya dan prilaku kehidupan sehari-hari.

Terhadap hal itu tentu ada kritik. Bahwa sebenarnya maunya ulama, ilmuwan dan pakar agama adalah bagaimana membudayakan doktrin dan teks agama itu tidak melenceng di bawa arus budaya. Sehingga terjadi bias dan gap yang dalam antara ajaran agama yang murni dengan budaya yang kadang lebih banyak dipengaruhi budaya lokal. Apa lagi mengada-ada tanpa dasar rujukan. Bahasa netizennya hanya mengejar tayang konten digital (innovasi tanpa dalil). Khawatir budaya agama kehilangan nilai syar’i-nya.

Oleh karena itu, bisa jadi bagi kalangan tertentu yang menganggap agama sebagai doktrin dan norma semata, akan kesulitan memahami bagaimana orang Jawa beragama, orang Minang dan Melayu beragama. Atau lebih luas orang Arab beragama, orang Barat beragama dan orang Timur beragama.

Clifford Geertz (1926-2006)

Buku klasik Clifford Geertz, Islam Observed, Perkembangan Islam di Maroko dan Indonesia (1968). Melalui pendekatan antropologi simbolik dan interpretative (simbol dan makna), Geertz mengamati Islam di Maroko dan Indonesia (Jawa) sebagai sistem simbol yang membentuk budaya, etos, dan pandangan hidup masyarakat setempat.

Halaman:

Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.

Bagikan:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...

Opini - 08 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui...

Opini - 01 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.