Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai pernyataan kontroversial dari influencer media sosial kembali memancing reaksi publik. Salah satu nama yang kerap muncul dalam berbagai polemik adalah Abu Janda. Setiap kali muncul pernyataan yang dianggap menyinggung kelompok tertentu, tidak sedikit pihak yang merasa perlu memberikan tanggapan, bantahan, bahkan mengajak debat terbuka.
Namun jika dikaitkan dengan masyarakat Minangkabau, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah semua pernyataan semacam itu memang layak ditanggapi?
Minangkabau bukan sekadar sebuah daerah di Sumatera Barat. Minangkabau adalah salah satu pusat produksi pemikiran terbesar di Indonesia. Dari ranah ini lahir banyak tokoh yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Nama-nama seperti Mohammad Hatta, Agus Salim, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Rohana Kudus, dan banyak lainnya menjadi bukti bahwa tradisi intelektual telah mengakar kuat dalam budaya Minangkabau.
Budaya Minang sejak lama menjunjung tinggi pendidikan, diskusi, argumentasi berbasis ilmu, serta kemampuan berpikir kritis. Surau, sekolah, perguruan tinggi, hingga tradisi merantau telah membentuk masyarakat yang terbiasa menguji gagasan melalui pengetahuan dan pengalaman.
Karena itu, ketika muncul pernyataan dari seorang influencer yang lebih dikenal karena kontroversi dibanding kontribusi ilmiah, masyarakat sebenarnya tidak perlu merasa terpancing untuk turun gelanggang. Level diskusinya sudah terlalu jauh berbeda. Tidak semua ucapan harus dilawan dengan perdebatan.
Dalam dunia komunikasi publik terdapat prinsip sederhana: perhatian adalah mata uang. Semakin banyak perhatian diberikan kepada seseorang, semakin besar pula panggung yang ia peroleh. Ketika sebuah pernyataan yang lemah secara substansi terus-menerus dibahas, dikutip, dan diperdebatkan, yang terjadi justru bukan penguatan argumen, melainkan pembesaran pengaruh.
Bukankah ada pepatah yang mengingatkan agar kita tidak menjadikan orang yang tidak memiliki kapasitas menjadi terkenal? Memberikan panggung yang terlalu besar kepada figur yang hidup dari kontroversi hanya akan memperpanjang siklus yang sama. Hari ini satu pernyataan, besok muncul pernyataan lain yang lebih provokatif demi mempertahankan perhatian publik.
Publik juga dapat menilai sendiri kualitas sebuah pendapat. Ketika seseorang tidak memiliki rekam jejak akademik yang kuat, tidak dikenal karena karya ilmiah, tidak memiliki kontribusi intelektual yang signifikan, lalu diposisikan berhadapan dengan profesor, doktor, peneliti, atau cendekiawan, hasilnya sering kali bukan dialog yang produktif. Yang muncul justru tontonan yang miskin substansi.
Diskusi yang sehat mensyaratkan adanya kesetaraan dalam penguasaan materi, metodologi berpikir, serta kesediaan menerima fakta. Tanpa itu, perdebatan hanya menjadi ajang saling bicara tanpa pernah benar-benar bertemu pada tingkat argumentasi yang sama.
Masyarakat Minangkabau memiliki warisan intelektual yang jauh lebih berharga untuk dijaga daripada menghabiskan energi pada polemik sesaat. Tradisi yang melahirkan pemikir, ulama, negarawan, akademisi, dan pemimpin bangsa semestinya tetap fokus pada produksi gagasan, pendidikan generasi muda, serta kontribusi nyata bagi Indonesia.
Tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua provokasi harus ditanggapi. Kadang-kadang, bentuk respons paling elegan adalah menunjukkan kualitas melalui karya dan prestasi, bukan melalui pertengkaran yang tidak membawa manfaat.
Oleh:
Dewi Kartika
Ibu Rumah Tangga
Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...
Opini - 18 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang
Esai - 16 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Palestina: Sejarah yang Disingkirkan, Keadilan yang...
Kolom - 05 Mei 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.