Puasa sebagai ibadah universal yang dimaksud di sini adalah ritual agama yang dilaksanakan oleh pemeluk berbagai agama samawi bahkan agama-agama lain yang disebut ardhi atau agama bumi.
Samawi dan Ardhi. Agama samawi dalam teks dan konteks adalah agama yang memiliki wahyu dari Allah diturunkan kepada Rasul-rasulnya. Lalu Kumpulan wahyu itu terkompilasi di dalam kitab-kitab suci mereka. Maka di dalam disiplin ini dikenal suhuf-suhuf kepada para Rasulullah lainnya dan kitab zabur, injil dan al-Quran kepada Rasulullah, Nabi Daud, AS, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.
Ibadah puasa sebagai ibadah universal dinyatakan di dalam Al-Quran, Al Baqarah (2): 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Puasa adalah praktik ibadah universal yang ditemukan dalam hampir seluruh tradisi agama dan kepercayaan besar di dunia, bukan hanya dalam Islam. Secara umum, puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, atau kesenangan duniawi lainnya untuk tujuan spiritual, disiplin diri, atau penyucian jiwa.
Agama Islam mewajibkan umatnya menjalankan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Tujuannya adalah untuk meningkatkan ketakwaan (taqwa), merasakan penderitaan mereka yang kekurangan, dan melatih kendali diri.

Agama Nashrani ada tradisi di umatnya mempraktekkan puasa bervariasi antar denominasi. Banyak umat Kristen menjalankan puasa atau pantang selama masa Lent (Prapaskah) sebagai bentuk pertobatan dan persiapan menyambut Paskah.
Agama Yahudi mentradisikan Puasa paling utama dilakukan pada hari Yom Kippur (Hari Penebusan), di mana umat Yahudi tidak makan dan minum selama 25 jam untuk memohon ampunan atas dosa-dosa mereka.
Di kalangan pemeluk Hindu, Puasa (disebut Vrata) sering dilakukan pada hari-hari tertentu dalam kalender lunar, seperti Ekadashi, atau saat festival tertentu untuk menghormati dewa-dewi dan menyucikan pikiran.
Pada umat Buddha, ada tradisi menekankan pengendalian diri terhadap makanan. Bahkan para biksu biasanya tidak makan setelah tengah hari sebagai bagian dari disiplin meditasi dan pelepasan urusan keduniawian.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.
Pesantren Ramadhan dalam Cinta dan Iman
Opini - 03 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Ketika Puasa Tidak Ada Gunanya
Kolom - 25 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Kolom - 22 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial
Kolom - 21 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Puasa, Teologi Pengampunan Dosa
Kolom - 19 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.