Puasa bukan semata menahan diri dari hal-hal yang merusaknya secara fisik, biologis-jasmani, akan tetapi terkait dengan spiritualisasi. Setali dengan itu ada pemahaman sistem kepercayaan yang oleh kalangan lain disebut teologi.
Ini kosa kata yang mereka gunakan sebagai padanan dari akidah, ilmu tauhid atau ilmu kalam. Baik secara leksikal maupun semantik. Di dalam lingustik, hakikatnya merujuk kepada keimanan, ikatan kokoh dengan Tuhan, meng-Esakan Tuhan dan metoda pemikiran yang berhubungan dengan ke-Tuhanan.

Teologi Puasa. Di dalam konteks teologi tadi, maka semua ibadah ada hikmah dan pemendalaman-insight . Sekaitan dengan itu, tentang puasa, pada beberapa kajian dan sumber ada yang memisahkan dua Hadis Riwayat al-Bukhari antara kata shama dan qama Ramadhan. Ada pula di antara Muballigh yang malafazkan kedua mufradat (kosa kata) tadi dalam satu kalimat.
Maka hadis yang disatukan itu menjadi, “man shama wa qama ramdhana imanan wah tisaban, ghufira lahu ma taqadama min zanbih”.
Atinya, Barang siapa yang berpuasa sebulan Ramadhan dan mendirikan ibadah malam-malam pada bulan Ramadan karena iman dan perhitungan (mencari pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu (HR al-Bukhari).
Hadis tersebut merupakan repleksi idola, luasnya ampunan Allah SWT di bulan Ramadhan melalui dua jalur ibadah utama: puasa (shiyam) di siang hari dan shalat dan ibadah lainnya (qiyam) di malam hari.
Shiyam Ramadhan menekankan wajibnya ibadah itu di siang hari. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Lalu Qiyam Ramadhan menekankan betapa mulianya ibadah malam hari, dengan shalat Tarawih, zikir, doa dan memperdalam kajian Islam untuk meningkatkan kataqwaan.
Sementara itu, imanan wa ihtisaban setarik nafas. Meyakini dengan sepenuh hati dan jiwa bahwa puasa dan qiyam adalah perintah Allah yang wajib dan ibadah pengiring yang disunahkan dengan menjemput janji pahala di baliknya.
Lalu, ihtisaban adalah menjemput pahala dengan melakukan ibadah semata-mata mengharap ridha dan pahala itu dari Allah. Bukan karena terpaksa, ikut-ikutan, seremoni dan pamer atau riya.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005.
Pesantren Ramadhan dalam Cinta dan Iman
Opini - 03 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Ketika Puasa Tidak Ada Gunanya
Kolom - 25 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Kolom - 22 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial
Kolom - 21 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Kolom - 18 Februari 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.