Setiap Syawal tiba, kalimat minal aidin walfaizin berhamburan bagai bintang jatuh — di pesan singkat, ucapan lisan, bahkan spanduk pinggir jalan. Namun berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh merenungkan maknanya?
Kalimat itu adalah doa sekaligus harapan: semoga kita termasuk golongan yang kembali ke fitrah dan meraih kemenangan sejati. Tapi apa sesungguhnya fitrah itu?
Dalam bahasa Arab, fithrah berarti penciptaan, asal kejadian, dan kesucian. Al-Quran menegaskan dalam surah Ar-Rum (30:30) bahwa manusia diciptakan Allah menurut fitrah-Nya — yaitu kemurnian tauhid yang sudah tertanam sejak dalam kandungan. Fitrah ini bersifat tetap, meski lingkungan dan pola asuh bisa menggoyahkan keimanan seseorang. Dengan kata lain, manusia pada dasarnya condong kepada kebaikan dan pengakuan terhadap Tuhan — itulah hakikat orang beriman, yang hati atau qalbu-nya selalu tenang dan bahagia.

Ketenangan itu pun bukan datang begitu saja. Al-Quran mengingatkan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan lahir dari iman yang kuat, tawakal, dan penerimaan takdir — bukan dari ketiadaan masalah, melainkan dari kemampuan jiwa untuk tetap stabil bersama Allah dalam situasi apa pun.
Di sinilah banyak orang mulai salah paham. Ketika para ulama bicara soal ketenangan hati, dzikir, dan kedekatan dengan Allah, sebagian kalangan langsung mengasosiasikannya dengan jalan sufistik yang mengasingkan diri dari dunia. Seolah-olah beragama secara dalam berarti meninggalkan pekerjaan, mengabaikan keluarga, dan menjauhi kehidupan nyata.
Buya Hamka (1908–1981) justru tegas membantah pemahaman sempit itu.
Ulama besar kelahiran Maninjau ini menjelaskan tasawuf dengan cara yang segar dan membumi. Baginya, tasawuf sejati adalah membersihkan jiwa, mendidik budi pekerti, dan menekan kelobaan — bukan melarikan diri dari kenyataan. Seseorang boleh kaya raya, selama hartanya hanya ada di tangan, bukan bercokol di hati. Inilah yang Hamka sebut zuhud yang dinamis: bukan miskin, bukan pula menolak rezeki, melainkan tidak diperbudak oleh dunia.
Hamka bahkan menegaskan bahwa tasawuf harus berdampak sosial. Bukan berdiam diri dalam uzlah, melainkan mendorong manusia untuk berakhlak mulia, toleran, dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat. Kebahagiaan (sa’adah) sejati, menurutnya, bersumber dari hati sanubari — bukan dari kemewahan materi.
Pandangan ini selaras dengan pesan Al-Quran yang justru menyeimbangkan keduanya: “…berikhtiarlah dengan serius untuk akhiratmu, akan tetapi jangan lupakan kehidupan duniamu…” (QS. Al-Qashash: 77). Dunia memang digambarkan sebagai perhiasan yang fana — seperti tanaman yang mengagumkan petani lalu mengering dan hancur (QS. Al-Hadid: 20) — namun itu bukan alasan untuk tidak menjalaninya dengan sepenuh hati.
Buku Tasawuf Modern karya Hamka hadir bukan tanpa alasan. Ia adalah jawaban atas kegersangan spiritual masyarakat yang terseret arus materialisme — dulu maupun kini.
Oleh:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat