Kabar itu datang dari Lebanon Selatan.
Tiga prajurit Indonesia gugur dalam tugas di bawah United Nations Interim Force in Lebanon.
Nama-nama mereka disebut:
Namun setelah kabar itu lewat, kita sering berhenti hanya pada duka.
Padahal ada pertanyaan yang lebih dalam:
apa sebenarnya yang mereka lakukan di sana?
Indonesia tidak tiba-tiba berada di Lebanon.
Jalan itu telah dibuka sejak 1957, ketika bangsa ini mengirim Kontingen Garuda ke Mesir dalam misi United Nations Emergency Force.
Sejak itu, ribuan prajurit datang dan pergi, menapaki jalur yang sama—jalur yang jarang disorot, tetapi tidak pernah benar-benar sepi.
Mereka bukan pasukan yang dikirim untuk menaklukkan.
Mereka hadir untuk berdiri di antara dua pihak yang saling curiga, menjaga jarak agar kemarahan tidak berubah menjadi perang.
Saya pernah berada di jalan itu. Tahun 1978–1979, di Sinai, di sebuah zona penyangga antara Mesir dan Israel. Hamparan pasir luas yang masih menyisakan ranjau, pos jaga yang sunyi, dan malam yang terasa panjang.
Sebagian dari kami masih mahasiswa—anggota Resimen Mahasiswa yang direkrut dalam dua gelombang untuk memperkuat Kontingen Garuda VIII.
Kami datang dengan semangat, tetapi belum sepenuhnya memahami arti dari tugas itu.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Opini - 17 April 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial
Opini - 31 Maret 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.