
Di sana, tidak ada gemuruh perang.
Justru yang ada adalah kesunyian yang menuntut kewaspadaan tanpa henti.
Dan di tempat itulah kami belajar sesuatu yang sederhana, tetapi tidak ringan:
menjaga damai jauh lebih sulit daripada berperang.
Pasukan perdamaian sering disalahpahami.
Mungkin itu sebabnya, di banyak wilayah konflik, pasukan Indonesia justru dikenang karena sikapnya. Anak-anak berani mendekat. Warga lokal tidak segan menyapa.
Mereka tidak hadir sebagai ancaman, tetapi sebagai harapan.
Namun di balik itu, risiko tidak pernah benar-benar hilang.
Apa yang terjadi hari ini di Lebanon adalah pengingat yang nyata.
Bahwa di balik tugas yang sering disebut “misi perdamaian”,
selalu ada kemungkinan yang paling berat.
Mereka berangkat dengan niat menjaga kehidupan.
Tetapi harus siap menghadapi kematian.
Selama ini, kita sering mengira perdamaian adalah keadaan.
Padahal, ia adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...
Opini - 08 Oktober 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui...
Opini - 01 Oktober 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan
Opini - 25 Agustus 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA
Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...
Opini - 30 Juli 2026
Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.