Catatan Seorang Prajurit Perdamaian


Tulisan reflektif tentang peran dan pengorbanan prajurit perdamaian Indonesia dalam misi PBB, dari sejarah Kontingen Garuda h

Sudadi

Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Sabtu, 04 April 2026 | Esai

Pasukan perdamaian pbb
Pasukan Perdamaian PBB

Di sana, tidak ada gemuruh perang.
Justru yang ada adalah kesunyian yang menuntut kewaspadaan tanpa henti.

Dan di tempat itulah kami belajar sesuatu yang sederhana, tetapi tidak ringan:

menjaga damai jauh lebih sulit daripada berperang.

Pasukan perdamaian sering disalahpahami.

  • Mereka membawa senjata, tetapi bukan untuk menyerang.
  • Mereka berada di wilayah sengketa, tetapi tidak boleh berpihak.
  • Mereka harus tegas, tetapi tetap manusia.
  • Mereka harus waspada, tetapi tetap dekat dengan rakyat.

Mungkin itu sebabnya, di banyak wilayah konflik, pasukan Indonesia justru dikenang karena sikapnya. Anak-anak berani mendekat. Warga lokal tidak segan menyapa.

Mereka tidak hadir sebagai ancaman, tetapi sebagai harapan.

Namun di balik itu, risiko tidak pernah benar-benar hilang.
Apa yang terjadi hari ini di Lebanon adalah pengingat yang nyata.

Bahwa di balik tugas yang sering disebut “misi perdamaian”,
selalu ada kemungkinan yang paling berat.

Mereka berangkat dengan niat menjaga kehidupan.
Tetapi harus siap menghadapi kematian.

Selama ini, kita sering mengira perdamaian adalah keadaan.
Padahal, ia adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Halaman:

Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Bagikan:
Sebuah refleksi mendalam tentang konflik global modern, kegagalan diplomasi, pelanggaran etika perang, serta urgensi perdamai

Paradoks Nurani: Elegi Teks di Bawah Bayang-Bayang Rudal

Opini - 17 April 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Refleksi tentang kebahagiaan, iman, dan tanggung jawab sosial dalam perspektif Islam berdasarkan temuan Global Flourishing St

Bahagia, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Opini - 31 Maret 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.