Sejak 1957, dari Mesir, Sinai, hingga hari ini di Lebanon Selatan, selalu ada anak-anak bangsa yang berdiri di garis itu—garis yang tidak terlihat oleh kita, tetapi menentukan banyak hal.
Kita mungkin tidak mengenal mereka.
Tidak tahu bagaimana mereka berjaga di malam hari,
atau bagaimana mereka menahan rindu pada keluarga di tanah air. Yang kita tahu hanya ketika mereka gugur.
Dan di situlah kita seharusnya tidak berhenti.
Karena jika kita berhenti hanya pada kabar duka,
maka pengorbanan itu akan berlalu seperti berita biasa—datang, lalu hilang.
Jalan sunyi itu tidak pernah kosong.
Selalu ada yang berjalan ke sana—ke tempat yang justru dihindari banyak orang.
Mereka tidak mencari kematian. Tetapi mereka tahu, risiko itu selalu menyertai.
Dan mungkin, inilah yang harus kita pahami sebagai bangsa:
perdamaian dunia, yang sering kita anggap biasa,
sesungguhnya berdiri di atas kesediaan orang lain untuk mempertaruhkan hidupnya.
Jika hari ini kita masih bisa hidup tanpa dentuman perang,
maka di suatu tempat—di Lebanon, di Afrika, atau di sudut dunia lain—
ada prajurit Indonesia yang sedang berjaga, diam-diam memastikan semua itu tetap terjadi.
Dan ketika mereka gugur,
Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.
Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...
Opini - 08 Oktober 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui...
Opini - 01 Oktober 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.
Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan
Opini - 25 Agustus 2026
Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA
Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...
Opini - 30 Juli 2026
Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.