Catatan Seorang Prajurit Perdamaian


Tulisan reflektif tentang peran dan pengorbanan prajurit perdamaian Indonesia dalam misi PBB, dari sejarah Kontingen Garuda h

Sudadi

Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Sabtu, 04 April 2026 | Esai

Sejak 1957, dari Mesir, Sinai, hingga hari ini di Lebanon Selatan, selalu ada anak-anak bangsa yang berdiri di garis itu—garis yang tidak terlihat oleh kita, tetapi menentukan banyak hal.

Kita mungkin tidak mengenal mereka.

Tidak tahu bagaimana mereka berjaga di malam hari,
atau bagaimana mereka menahan rindu pada keluarga di tanah air. Yang kita tahu hanya ketika mereka gugur.

Dan di situlah kita seharusnya tidak berhenti.

Karena jika kita berhenti hanya pada kabar duka,
maka pengorbanan itu akan berlalu seperti berita biasa—datang, lalu hilang.

Jalan sunyi itu tidak pernah kosong.
Selalu ada yang berjalan ke sana—ke tempat yang justru dihindari banyak orang.

Mereka tidak mencari kematian. Tetapi mereka tahu, risiko itu selalu menyertai.

Dan mungkin, inilah yang harus kita pahami sebagai bangsa:

perdamaian dunia, yang sering kita anggap biasa,
sesungguhnya berdiri di atas kesediaan orang lain untuk mempertaruhkan hidupnya.

Jika hari ini kita masih bisa hidup tanpa dentuman perang,
maka di suatu tempat—di Lebanon, di Afrika, atau di sudut dunia lain—
ada prajurit Indonesia yang sedang berjaga, diam-diam memastikan semua itu tetap terjadi.

Dan ketika mereka gugur,

Halaman:

Oleh:
Sudadi
Veteran Perdamaian. Ia pernah bertugas dalam Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/UNEF-Sinai, Mesir, Timur Tengah pada 1978-1979.

Bagikan:
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Menuju Keabadian: Sketsa Perjalanan Manusia dalam...

Opini - 08 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Kemaslahatan Multidimensi: Menenun Kesehatan Melalui...

Opini - 01 Oktober 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk mengh

Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Opini - 25 Agustus 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA

Opini Shofwan Karim mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana pembentukan negarawan dan penguatan kualitas kepemimpinan n

Menanam Negarawan, Merawat Republik

Opini - 05 Agustus 2026

Oleh: Shofwan Karim

Opini mengenai pentingnya otomasi kendali suhu dan pencahayaan pada ruang racik obat menggunakan mikrokontroler dan algoritma

Ruangan Kecil Berisiko Besar: Saatnya Ruang Racik Obat Kita...

Opini - 30 Juli 2026

Oleh: Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si.