Hari Lingkungan Hidup 2026: Menanam, Meski Esok Kiamat


Islam memandang lingkungan hidup sebagai amanah suci yang harus dijaga dan dilestarikan. Melalui perspektif teologis, filosof

Shofwan Karim

Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Minggu, 07 Juni 2026 | Opini

Membaca alam dengan kacamata teologis, syar'i, dan sufistik menuntut kita untuk sadar bahwa merusak lingkungan adalah bentuk pelanggaran spiritual yang menjauhkan manusia dari rahmat Allah. Masa depan iklim ditentukan oleh tindakan kita hari ini. Menjaga bumi bukan lagi sekadar pilihan logis untuk bertahan hidup, melainkan sebuah refleksi dari keimanan yang mendalam, sebuah sujud panjang di atas sajadah bumi yang terhampar luas. (*)

Halaman:
1 2 3

Oleh:
Shofwan Karim
Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Bagikan:
Esai keagamaan tentang Sidang Isbat, Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, perbedaan metode rukyat dan hisab, serta pent

Sidang Isbat, KHGT: Menenun Kebersamaan Esensial di Bawah...

Opini - 18 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Esai reflektif tentang makna senioritas, pengalaman hidup, keteladanan, dan pentingnya hubungan saling menghormati antara gen

Wibawa yang Dibentuk oleh Waktu

Opini - 18 Mei 2026

Oleh: Sudadi

Esai reflektif Shofwan Karim tentang kisah Nabi Nuh A.S. sebagai teladan kesabaran, keteguhan iman, dan bahtera penyelamat di

Nuh A.S.: Kesabaran dalam Gelombang

Esai - 16 Mei 2026

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.