Halaban: Penyambung Nafas Republik yang Terlupakan


Stasiun Halaban, saksi bisu perjuangan kemerdekaan

Prof. Dr. Gusti Asnan

Sejarawan dan Guru Besar Universitas Andalas

Rabu, 31 Desember 2025 | Esai

Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang melanda Sumatera Barat, ada satu tempat yang seperti terlupakan oleh waktu: Halaban. Sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Lima Puluh Kota yang menyimpan sejarah besar – penyambung nafas Republik di masa-masa kritis perjuangan kemerdekaan.

Tahun 1949, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta, pemerintahan Republik Indonesia hampir lumpuh total. Di saat itulah, jalur kereta api Halaban menjadi urat nadi yang menghubungkan wilayah Republik yang tersisa di Sumatera.

Melalui rel-rel tua yang meliuk di antara bukit dan lembah, logistik, senjata, dan personel militer diangkut untuk mempertahankan kedaulatan Republik. Stasiun Halaban menjadi simpul penting dalam jaringan perlawanan.

Kini, stasiun bersejarah itu masih berdiri. Namun kondisinya memprihatinkan. Cat yang mengelupas, atap yang bocor, dan rerumputan liar yang tumbuh di sekitarnya seolah menjadi metafora tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan memori kolektifnya.

Ironis, di saat kita sibuk membangun monumen-monumen baru, warisan sejarah yang sesungguhnya justru terabaikan. Halaban bukan sekadar bangunan tua – ia adalah saksi bisu tentang tekad bangsa yang tidak mau menyerah meski dalam keadaan terjepit.

Generasi muda perlu mengenal Halaban. Bukan hanya sebagai objek wisata sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pengorbanan luar biasa. Pengorbanan yang terjadi bukan hanya di Jawa, tetapi juga di pelosok-pelosok seperti Halaban.

Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pelestarian situs-situs sejarah seperti ini. Revitalisasi Stasiun Halaban bukan sekadar proyek fisik, tetapi upaya merawat ingatan kolektif bangsa.

Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Oleh:
Prof. Dr. Gusti Asnan
Sejarawan dan Guru Besar Universitas Andalas

Bagikan:
Sefriza Rahma, S.Pd.I

Maghrib yang Tergadai: Paradoks Senja di Tanah Minang

Opini - 18 Januari 2026

Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I

Sefriza Rahma, S.Pd.I

Di Ujuang Sanjo, Lalai ka Gantuangan

Feature - 18 Januari 2026

Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I

Bupati Agam dalam wawancara eksklusif

Wawancara Bupati Agam: Nyatakan Darurat, Anggaran...

Wawancara - 31 Desember 2025

Oleh: Tim Redaksi Mimbar Minang

Suasana Zona KHAS di kawasan Pantai Padang
Ilustrasi pekerja di Sumatera Barat

UMP Naik, Sudahkah Cukup untuk Hidup Layak di Sumbar?

Opini - 31 Desember 2025

Oleh: Ir. Fauzan Malik, M.E.