PAYAKUMBUH -- Di tengah arus modernisasi, upaya pelestarian sejarah lokal seringkali terlupakan. Namun tidak bagi Feni Efendi, seorang penulis dan peneliti produktif asal Nagari Tiakar, Payakumbuh, yang mendedikasikan dirinya untuk mendokumentasikan memori kolektif masyarakat Minangkabau melalui karya literasi yang masif.
Nama Feni Efendi kini identik dengan "Pajacombo", sebuah seri buku memori kolektif yang membedah kekayaan sejarah, tokoh, hingga cagar budaya di wilayah Luhak Limo Puluah. Lewat seri ini, Feni Efendi berhasil pula menghimpun profil para tokoh besar, mulai dari jajaran birokrat hingga guru besar yang berasal dari tanah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota ke dalam catatan tertulis yang rapi.
PDRI merupakan salah satu kontribusi terbesar Feni yang menarik perhatian pemerhati sejarah dalam penelitiannya yang mendalamnya mengenai Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dalam beberapa karyanya, seperti "Jejak yang Terlupakan", ia menelusuri kembali rute perjuangan Mr. Syafruddin Prawiranegara.
Feni tidak hanya menulis sejarah dari balik meja, tetapi terjun langsung mendokumentasikan situs-situs bersejarah di berbagai wilayah Sumatera Barat, mulai dari Solok Selatan hingga Dharmasraya, guna memastikan mata rantai sejarah bangsa tidak terputus bagi generasi mendatang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari profil akademisnya di Google Scholar, Feni Efendi juga menunjukkan sisi intelektual yang kuat melalui riset mengenai dampak pendidikan dan perubahan sosial di daerah. Tak hanya itu, ia juga piawai mengolah rasa lewat karya sastra, seperti kumpulan puisi "Selendang Ibu Perdana Menteri" dan seri prosa Minang "Buyuang Amo".
"Menulis adalah cara menjaga ingatan agar tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan," ungkap salah satu pesan tersirat dalam dedikasinya di dunia literasi.
Melalui penerbit Fahmi Karya, Feni terus konsisten melahirkan buku-buku yang menjadi referensi penting bagi akademisi maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dalam jati diri dan identitas kultural Minangkabau.
Saat ini, sosoknya dipandang sebagai motor penggerak literasi daerah yang mampu menyinergikan antara sejarah, budaya, dan riset ilmiah dalam satu tarikan napas karya.
Penulis: Nendo Putra
Editor: Feni Efendi
Seni & Budaya - 31 Desember 2025